Vaksin Rubella, Delima Ketidakpastian Halal & Haram

Vaksin Rubella, Delima Ketidakpastian Halal & Haram

Vaksin rubella mencuat menjadi delima dikalangan masyarakat, usut punya usut kang Ais pun menemukan sejumlah komentar miring yang ternyata berawal dari adanya ketidakpastian tentang status vaksin. Apakah halal atau haram?

Mimin sendiri tidak akan berspekulasi tentang status halal atau haram, namun tentu saja ini akan menjadi sebuah topik menarik untuk kita diskusikan bersama. Kenapa kemudian ini menjadi sebuah delima dikalangan masyarakat? Seberapa pentingnya kah ini harus sesegara diluruskan oleh pihak terkait, karena sangat mungkin isu polemik seperti akan semakin liar atau bahkan tidak terkendali.

Mimin yang memiliki dua anak kecil pun terus memantau perkembangan terbaru tentang berita dan desas desus kekinian seputar vaksin rebulla ini. Harapan nya sederhana agar pemerintah mau jujur memberikan informasi yang sesungguhnya dan mau di uji secara terbuka tentang status vaksin tersebut.

Apa sih sebenarnya yang menyebabkan hal ini mencuat kepermukaan? Mimin percaya ini adalah sebuah fenomena spontan bukan menjadi bagian rencana besar. Adanya sebuah ketidak percayaan masyarakat akar rumpun terhadap pemerintah sekarang, bisa saja adalah faktor yang tidak di sadari oleh kita semua. Bukan kah pemberian vaksin rubella ini adalah bagian program pemerintah. Lalu kenapa kemudian ini menjadi heboh dan rame diperbincangkan oleh masyarakat akar rumpun? Apakah kita meragukan pemerintah kita sendiri?.

Halal Dan Haram Adalah Urusan Pokok Umat Muslim.

Indonesia adalah sebuah negara dengan masyarakatnya yang mayoritas muslim, maka wajar saja ini menjadi sebuah delima tatkala sebuah perkara halal dan haram harus bersentuhan langsung dengan masyarakat itu sendiri. Pemerintah harus siap memenuhi kepentingan umat muslim, karena sebenarnya ini menyangkut hak umat muslim dalam menjalankan ajaran agamanya. Mungkin halal dan haram sama sekali tidak ada urusan nya dengan pemerintah, tapi ini berurusan langsung dengan sebuah kehidupan masyarakat.

Kuncinya cuman satu, vaksin tersebut harus mendapatkan sebuah status kepastian untuk meredakan sebuah gonjang-ganjing dikalangan masyarakat, khususnya muslim. Selain itu pemerintah juga harus meluruskan atau dalam bahasa kasarnya memperbaiki hubungan pemerintah dengan umat islam yang mayoritas, karena sebenarnya ada stigma bahwa ketidak perdulian pemerintah terhadap umat muslim itu melahir efek yang sangat besar.

Ada sebuah opini yang menyebar dikalangan masyarakat muslim Indonesia, akan cara kerja pemerintah yang berjalan dengan sebuah sistem kapitalisme dan liberalisme. Agama dan negara menjadi seolah ada jarak, seolah-olah negara tidak mau tau dengan urusan agama karena itu soal individual. Misalkan dalam slogan “jangan bawa-bawa agam dalam politik” seolah mengindekasikan bahwa sistem negara saat ini memang berusaha untuk menjauhkan diri dengan agama.

Ini seolah-olah mengatakan dengan kasar, pemerintah memang tidak lagi perduli dengan agama dan apa-apa yang menyangkut dengan agama. Sehingga ada muncul keraguan “jangan-jangan pemerintah juga tidak perduli apakah makanan, obat-obatan, atau sebuah vaksin itu halal atau haram”. Sementara bagi seorang muslim status kepastian halal dan haram itu sangatlah penting dalam kehidupan mereka, sementara soal apakah seorang akan menggunakan nya atau tidak akan dikembalikan kepada individualnya masing-masing.

Seperti status minuman beralkohol atau status daging babi. Ini tidak menjadi delima karena statusnya yang jelas. Muslim yang taat terhadap agama islam akan menjauhinya/tidak akan mengkonsumsinya. Sementara jika misalkan ada yang tetap ingin mengkonsumsinya, maka itu pilihan pribadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *