Haul Guru Sekumpul yang Membuat Ku Kembali Ke Habitat Asli

Haul Abah Guru Sekumpul yang Ke 14

Maaf jika misalkan ulasan, laporan jurnal, atau apapun itu terasa sangat terlambat. Sebenarnya sejak kemarin saya ingin menulis tentang kesan yang kita dapatkan dalam acara haul abah guru sekumpul yang ke 14 kemarin, 9-10 Maret 2019.

Beberapa hari yang lalu sebagaimana banyak dibagikan oleh sejumlah orang, tanah Kalimantan kembali mengadakan sebuah acara haul ulama kharismatik yakni haulnya ayah kita bersama Al-alim Al-arifbillah Maulana Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani. Semoga Allah curahkan rahmat kepada beliau dan kepada kita semuanya.

Acara Haul yang Sangat Fenomenal.

Acara haul di Sekumpul ini menjadi salah satu acara keagamaan yang sangat fenomenal. Berbagai cerita yang terjadi kadang membuat kita tersentuh, kagum, bangga, atau mungkin merasa sedih. Ya! kita tidak tahu bagaimana rasanya kecuali kitalah orang yang menemukan serpihan cerita tersebut.

Acara ini sangat fenomenal karena memang menjadi salah satu acara maulid dan haul terbesar di Asia, atau bahkan dunia. Sebuah acara haul yang dihadiri oleh jutaan umat muslim sedunia. Bukan lagi acaranya orang Kalimantan jika berdasarkan pendapat saya pribadi. Bayangkan saja semakin tahun acara haul tersebut semakin besar dan gaungan nya semakin kemana-mana. Orang Kalimantan boleh berbangga memiliki seorang ulama yang sosoknya sangatlah dicintai oleh banyak kalangan, dari pejabat, artis hingga para ulama dan habaib.

Saya tidak membahas bagaimana sosok kharismatik Abah Guru Sekumpul yang menjadi shohibul haul tersebut, silahkan membaca para artikel tentang biografi beliau. Yang ingin saya katakan adalah bagaimana sebuah acara haul yang banyak mengajarkan kita tentang kehidupan umat muslim seharusnya.

Mungkin kita akan kesulitan menemukan sebuah acara keagamaan yang antusiah masyarakat sebesar antusiasnya masyarakat di acara haul abah guru sekumpul. Ada ratusan rest area di sepanjang jalur provinsi, dimana mereka menyediakan tempat istirahat, makan dan minum, dan pelayanan gratis lainnya. Bahkan di sekumpul sendiri masyarakat Martapura dan relawan berlomba menyediakan penginapan gratis.

Saya sendiri belum menemukan ada acara seperti itu ditempat lainnya. Jemaah haul yang hadir jutaan orang, dan dilayani dengan sedemikian rupa. Penginapan gratis, rest area yang disiapkan sepanjang jalan hingga keluar provinsi, makan gratis, minum gratis, dan pelayanan lainnya. Saya hanya teringat pengajaran abah guru sekumpul yang mengatakan ” Jadilah pemurah jangan pemarah, berkasih sayangan lah sesama umat muslim “.

Benar! hari itu di haul beliau bisa kita rasakan bagaimana umat Islam yang saling berbagi dan berkasih sayangan antar sesama. Begitu indah! hingga saya berpikir mungkin inilah yang diinginkan oleh syiekhuna abah guru sekumpul. Agar sesama umat muslim saling membantu, saling peduli, dan merapatkan barisan dengan dasar saling menyayangi.

Kembali Ke Habitat Kita.

Haul Guru Sekumpul yang Membuat Ku Kembali Kehabitat Asli
Penulis dan Anak Penulis (Baju Merah) Bersama Amang Muhammad Nafiah (mengenakan baju kaos) di Asrama Santri Bukhari 2 Tanjung Rema Martapura.

Penulis sendiri adalah seorang alumni di sebuah pondok pesantren. Acara haul, acara maulid, ngaji bareng teman-teman sambil bawa kitab kuning, dll adalah hal lumrah yang dulu saya alami. Namun beberapa tahun setelah penulis menikah dan tinggal diperantauan, memang kesibukan tersebut semakin jarang. Kita sibuk ngurusin anak bini, nyari nafkah, dll.

Alhamdulillah di haul abah guru penulis bisa kumpul bareng lagi dan ketemu sebagian sahabat lama di asrama pesantren. Sebagian mereka ada yang menjadi penghafal alqur’an, ada yang masih bujangan, dan ada juga yang sudah menjadi ayah.

Setiap tahun penulis memang sudah biasa jika acara haul abah guru akan mampir singgah ke sebuah asrama santri yang berasal dari kampung halaman. Di sana kadang kita ketemu sahabat lama yang juga pernah nyantri.

Kita berasa kembali ke alam habitat asli, bedanya sekarang bukan bujangan lagi tapi bareng anak bini. Berjibaku di tengah-tengah kaum muslimin dengan mengenakan sarung, baju koko, dan peci terasa menjadi santri lagi. Menghamparkan sejadah, sholat berjamaah dengan jutaan umat muslim, membaca sholawat dan tahlil membuat hati kita tenang.

Tidak bisa di pungkiri karena inilah habitat asli penulis, dari santri sarungan dan pada akhirnya bisa kembali ke nuansa yang sama. Mengingatkan saya tentang serunya dulu saat duduk berbaris menunggu setorkan hafalan jurumiyah, atau duduk manis mengikuti acara maulid di musholla pondok.

Semoga tahun depan bisa berhadir lagi bersama jutaan umat muslim lainnya, amiin.

Diterbitkan oleh Ais elkirami

Ais elkirami adalah seorang blogger, penulis dan pemerhati topik: general, lifestyle, kesehatan, tekno, SEO, dan banyak lainnya. Seorang ayah dengan 2 anak menuju proses anak ke 3 | www.elkiram.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *