Tidak Akan Puas Kau Menghayal

Hayalan hanya akan memicu sikap enggan & malas yang terlalu sulit untuk di sembuhkan.

Menghayalkan bagaimana kenyamanan menjadi penguasaha kaya, pemilik modal sementara para anak buahlah yang bekerja untuk kita, atau menghayal menjadi blogger yang memiliki visitor hingga mencapai 10.000 orang perhari. Akan sangat menyenangkan yah! Bahkan sambil tiduran sekalipun uang terus mengalir tanpa ada hentinya. Jika merasa bosen bisa berjalan-jalan kebeberapa tempat wisata menarik, bahkan kalau bisa berlibur ke luar negri.

Namun itu hayalan, yang ternyata nyaman nya hanya sekedar angan-angan. Khususnya bagi mereka, kita, anda, atau saya yang hanya blogger cupu, dan bukan pengusaha kaya, apalagi pemilik modal. Menghayal memang menyenangkan di waktu senggang yang sepi dengan kerjaan, entah berapa puluh kilo meter angan-angan berlari tanpa berhenti.

Namun, dalam kenyataan nya kita terus tertinggal dari mereka yang berusaha bergerak jika ada waktu luang. Sementara orang-orang terus berlari, berjalan dengan pelan namun pasti, hingga bahkan ada yang secepat kilat menemukan & menggapai cita-citanya. Sementara kita, hanya melamun dalam alam yang sebenarnya tidak pernah ada, hanya imajanasi yang bahkan bayang-bayangan nya saja terlampau terlalu mistis untuk diraih.

“Setiap angan-angan yang panjang biasanya tidak akan pernah serasi dengan perbuatan. Sementara tingginya sebuah cita-cita berawal dari kerja keras meraihnya. Usaha adalah pembeda antara angan-angan & cita-cita.”

Angan-angan yang ada di benak kita tidak akan ada habisnya, & tidak akan pernah ada gunanya. Semakin kita masuk ke dalam kubangan angan-angan & hayalan, akan semakin sulit kita keluar dan melihat dunia nyata. Keadaan nyata harus kita sadari, itulah yang harus kita perjuangkan. Melangkah & terus merangkak menerima kenyataan, serta mau berbuat akan menuntun langkah-langkah kita.

Kita harus berani keluar dari dunia yang kita ciptakan sendiri di alam bawah sadar kita. Menoleh sesaat kepada diri kita, kemudian melangkah setelah kita tahu kapasitas kita sendiri. Sementara sisanya kembalilah kepada sang khaliq sebagai penentu hasil yang akan datang.

Leave A Reply

Your email address will not be published.