Suara Serak Basah Rakyat Di Telinga Penguasa

Suara Serak Basah Rakyat Di Telinga Penguasa.

Suara Serak Basah Rakyat Di Telinga Penguasa.- Keadilan adalah sesuatu keharusan untuk ditegakan di negri kita yang tercinta ini, apapun alasan nya keadilan menjadi hajat orang banyak & mungkin para kakek nenek kita berjuang mati-mati untuk memerdekakan bangsa ini untuk tegaknya keadilan. Keadilan bukanlah masalah kecil dalam sebuah bangsa, terlalu besar untuk kita anggap remeh temeh. Semua orang paham akan pentingnya sebuah keadilan, semua orang akan mengatakan mari kita tegakan keadilan. Namun apakah itu akan terwujud jika kita sudah menjadikan ketimpangan sebagai zona nyaman kita.

Saat rakyat awam harus berhadapan dengan hukum & pengadilan karena menebang pohon untuk membangun rumah dan menafkahi anak istrinya. Tapi dilain pihak banyak perusahaan raksasa yang menebang pohon, mencemari lingkungan, merusak alam hingga beribu hektar luasnya, justru mendapatkan restu dari mereka yang harusnya menegakan keadilan. Lalu bagaimana yang namanya keadilan melihat itu?

Orang bilang suara rakyat suara tuhan, tapi koq suara rakyat kalah dengan suara penguasa? Itu jika masih pantas disebut kebijakan. Mereka bilang itu kebijakan pemerintah, tapi koq banyak ditentang oleh rakyat yang mengangkatnya. Bukankah penguasa dalam sebuah tatanan Negara modern adalah kepanjangan dari kehendak rakyatnya. Karena kita tidak lagi hidup dijaman raja-raja dan penguasa wilayah yang memiliki kebijakan atas rakyatnya.

Saat banyak kebijakan penguasa menyalahi kehendak rakyatnya, saya pun bertanya-tanya “Apakah suara rakyat sudah mulai serak sehingga telinga pejabat Negara terlihat menuli?”. Atau sebenarnya kita memang sedang hidup disebuah negri dongeng yang rakyat mengangkat majikan nya sebagai penjajah pilihan nya.

Seorang kawan menyeloteh kalimat-kalimat yang saya tulis disebuah media sosial. “Untung kita masih bisa menertawakan kebijakan penguasa, belum disebut makar selayaknya pengeritik yang dianggap sampah-sampah keadilan”.

Harga BBM terus tanpa terkendali melambung tinggi, harga barang pokok pun ikut membusungkan dada, sementara gajih dan penghasilan naiknya seuprit. Rakyat merintih tapi katanya itu kebijakan penguasa, pemerintah, Negara, atau apalah namanya.

Contoh lucu seraknya suara rakyat dihadapan penguasa dan kaum intelek pemerintah.

Beberapa waktu lalu kawan-kawan dari WALHI Kalsel sebagai perwakilan suara rakyat Kalimantan Selatan membawa permasalahan SK dari Menteri ESDM ke pengadilan. Ya! Itu soal SK izin produksi batu bara di wilayah pegunungan meratus, yang padahal masyarakat banua (Kalsel) menolak adanya tambang di daerah tersebut. Alasan nya sederhana, karena daerah tersebut dianggap hulu dari daerah-daerah lainnya, menjadi pertahan alam yang bisa berdampak sangat buruk jika digarap sebagai lahan tambang. Tanpa Amdal, SK tetap turun dan upaya membawa ke meja pun ditolak oleh hakim pengadil.

Hahaha suara mu parau bos, kurang nyaring. Bahkan sejumlah masyarakat pun berusaha mentwit kesejumlah tokoh Nasional #SaveMeratus, entah pak Presiden, ketua partai, dll. Tapi tidak ada tanggapan kecuali dari sedikit dari yang sedikit rakyat awam yang memberi tanggapan.
Seperti kalau bukan wong gedungan yang bersuara maka keadilan menjadi buta ditengah-tengah ramainya Negara yang menjadikan “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” sebagai butiran cantik Pancasila.

Pada akhirnya saya kembali bertanya kepada diri saya sendiri, kenapa juga saya menulis yang beginian. Suaranya mu juga tak kalah parau nya, bahkan jika diumpamakan musim maka suara ku adalah musim kemarau yang selalu mendung. Hahahaha enggaklah, setidaknya sebagaimana kata kawan saya, saya hanya menertawakan kebijakan yang katanya bijak.

Diterbitkan oleh Ais elkirami

Ais elkirami adalah seorang blogger yang perduli dengan nilai-nilai sosial sebuah kehidupan masyarakat. Konsisten dalam menulis, dan siap belajar dari siapa pun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *