Sejarah Hadrah Banjari Hingga Banyak Di Mainkan Oleh Banyak Kalangan Santri

Sejarah Hadrah Banjari

Sejarah Hadrah Banjari.- Pernah dengar pembacaan shalawat pas diadakan nya acara maulid belum? Tentu pernah lah, apalagi Indonesia Negara dengan mayoritas muslim yang berpahamkan ASWAJA. Dimana satu dari sekian banyak kegiatan nya mengadakan pembacaan maulid dan shalawatan. Apalagi belakangan ini shalawatan dengan iringan tabuhan hadrah atau terbang ini semakin kian digemari oleh banyak kalangan. Hampir rata-rata majelis-majelis pengajian di isi dengan pembacaan maulid dan shalawatan.

Tapi tahukan sudah sejarah maulid dan hadrah banjari ini?

Hadrah Banjari itu namanya, ada yang memasukan nya ke dalam bagian dari seni music belakangan ini. Yang pasti kesenian ini semakin populer dan semakin banyak diminati oleh banyak kalangan. Sulit memang menemukan jejak rekam sejarah hadrah ini, namun sesuai namanya banyak yang meyakini bahwa music hadrah ini berasal dari tanah banjar.

Menurut kami (Ais elkirami) hadrah ini ada kaitan nya dengan thoriqat sammaniyah yang banyak beredar di Kalimantan, Sumetera, dan betawi. Jejak rekamnya jelas. Jika kita menemukan adanya tarian samman di aceh sebagai jejak rekam thoriqat sammaniyah, maka di Kalimantan khususnya tanah Banjar ada budaya lama sejak jaman kerajaan yang juga lestari sampai sekarang, yakni behadrah.

Behadrah adalah sebuah kesenian local orang banjar yang biasanya dilakukan untuk mengiringi sebuah rombongan kehormatan atau melakukan sambutan. Biasanya sejumlah terbang di pukul dengan irama tertentu, di iringi dengan lantunan syair-syair yang dibacakan.

Entah syair pujian, dll, sementara di sisi lain ada seseorang yang bertugas memegang payung sambil memutar-memutarnya mengiringi tamu kehormatan tersebut. Belakangan acara ini bukan hanya untuk menyambut tamu kehormatan namun juga bisa dilakukan untuk mengiringi rombongan penganten.

Sinoman Hadrah
Tradisi Khas Banjar Bahadrah

Konon katanya hadrah juga ditabuhkan oleh Syekh Maulana Muhammad Arsyad Al-banjari atau datu kalampayan saat membacakan puji-pujian kepada guru beliau Syekh Muhammad Semman Al-madani. Bahkan hingga sekarang tabuhan terbang syekh semman selalu ditabuhkan saat pembacaan puji-pujian kepada Syekh Semman Al-madani saat mengadakan acara haul beliau. Itulah kenapa kami beranggapan terbang atau hadrah banjari itu memiliki kaitan erat dengan thoriqat sammaniyah.

Hadrah Banjari Dipopulerkan Oleh Tuan Guru Sekumpul.

Apalagi jika ternyata kita temukan hadrah banjari dipopulerkan oleh tuan guru sekumpul yang mengiringi pembacaan-pembacaan maulid dengan pukulan terbang. Tuan guru sekumpul atau Al-quthub As-syekh Maulana Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Al-banjari (1942-2005) sendiri adalah seorang ulama kharismatik yang juga guru murabbi mursyid thoriqat sammaniyah. Majelis pengajian dan pembacaan mualid beliau sangatlah besar, setiap kali pengajian beliau dihadiri oleh ratusan ribu murid beliau. Hingga ada yang mengatakan Martapura khususnya Sekumpul di mushalla Ar-Raudah tempat tuan guru mengajar adalah kerajaan nya shalawat.
Sejarah Hadrah Banjari

Bukan alasan yang mengada-ada sebenarnya, bahkan hingga sekarang pembacaan maulid menjadi salah satu tradisi yang sampai sekarang. Di Kalimantan pembacaan maulid tidak dilakukan setahun sekali saat bulan rabiul awal, namun bisa dilakukan seminggu sekali atau kapan saja. Kebanyakan diadakan sebelum pengajian ilmu agama, sehingga dimana ada pengajian agama rutin pasti ada pembacaan maulid sebelumnya. Kitab maulid yang dibacakan juga bervariasi, dari simtuddurar, maulid ad-dibai, maulid berjanji, dll.

Kontroversi Hukum Hadrah atau Terbang.

Penulis sendiri yang asli orang Kalimantan bukanlah orang yang terlalu awam dengan hadrah, sejak kecil masih sekolah dasar penulis sudah menjadi penabuh terbang. Hingga saat melanjutkan ke sebuah Pondok Pesantren tradisional di kota kelahiran penulis pada tahun awal 2000.

Terbang, rebana atau hadrah sejak jaman dulu itu sebenarnya menjadi sesuatu yang diperdebatkan oleh banyak ulama. Bisa kita katakan hadrah masuk kepada ranah khilafiyah dalam urusan agama. Ada sebagian ulama tradisional yang mengharamkan nya da ada juga yang membolehkan nya. Tapi pada dasarnya kedua belah pendapat memiliki dalil argumentasi nya masing-masing. Jadi sudah sejak jaman dulu perbedaan pendapat itu terjadi, hanya saja jika kami perhatikan suara yang mengharamkan semakin kurang terdengar dengan semakin populernya terbang atau hadrah dikalangan umat Islam.

Namun dalam tulisan kali ini kami tidak ingin memperpanjang perbedaan pendapat tentang hukum duff atau rebana. Karena bagaimana pun juga hadrah atau rebana yang dalam bahasa fiqih di sebut “Duff” memang ada silang pendapat, sehingga kita harus menghormati setiap pendapat sebagaimana kita menghormati adanya khilafiyah dikalangan para ahli fiqih.

Diterbitkan oleh Ais elkirami

Ais elkirami adalah seorang blogger yang perduli dengan nilai-nilai sosial sebuah kehidupan masyarakat. Konsisten dalam menulis, dan siap belajar dari siapa pun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *