Selamatkan Meratus Dari Kerakusan Dan Kerusakan Akibat Tambang

Selamatkan Meratus Dari Kerakusan Dan Kerusakan Akibat Tambang

Setelah berbulan-bulan lama kegaduhan menghinggapi hati masyarakat banua yang tinggal di Kab: HST, hari ini (22/10/2018) gugatan rakyat banyak melalui WALHI soal SK Menteri ESDM tentang izin produksi batu bara di HST dinyatakan di tolak. Bagi masyarakat banua ini adalah kabar duka cita, karena bagaimana pun juga masyarakat Kal-Sel memang menolak tambang batu bara di area pegunungan meratus karena di anggap akan merusak alam yang menjadi tanah kehidupan mereka.

Sebagaimana yang kita ketahui pulau Kalimantan adalah salah satu pulau penghasil batu bara terbesar di Indonesia. Lobang yang menganga akibat aktivitas tambang dan beberapa kerusakan ekosistem bukanlah hal yang baru mereka hadapi. Kalimantan yang terkenal sebagai paru-paru belakangan ini semakin terancam hutan-hutan nya akibat penambangan yang semakin menjadi-jadi. Bahkan pegunungan meratus yang dikenal oleh masyarakat Kalimantan sebagai atapnya pulau Kalimantan tidak luput dari ancaman pertambangan. Bagi masyarakat lokal yang memang biasa hidup bersahabat dengan alam kerusakan alam, tanah, dan air mereka adalah hal yang sangat menakutkan.


Keluarnya SK Menteri ESDM soal izin produksi batu bara di daerah pegunungan Meratus layaknya genderang perang dari pemerintah pusat. Bagi kami yang tinggal di Kalimantan, khususnya di area kaki pegunungan Meratus isu kerusakan alam adalah sebuah kewajiban untuk ditolak. Dari aksi penoakan dilapangan hingga membawa permasalahan ini kemeja hijau sudah diupayakan, tapi apalah daya bahkan hari ini (22/10/2018) setelah lama menunggu keputusan pengadilan, justru kami mendapatkan kabar duka yang cukup menyakitkan.

Kemana lagi kami harus mengadukan nasib anak cucu kami? Kemana lagi agar suara rakyat di dengar? Apakah memang suara rakyat banyak tidak berharga lagi untuk mengambil sebuah kebijakan?.

Mungkin anda yang tinggal di Jakarta, atau di kota-kota besar yang jalan-jalan raya mulus serta gedung-gedung berdekap kagum dengan pembangunan yang ada. Tapi tahukah kalian bahwa saudara kalian di pulau Kalimantan saat ini sedang berjuang mempertahankan yang katanya paru-paru dunia dari serakahnya pihak-pihak yang tidak lagi perduli dengan alam.

Ulurkan Tangan Mu Hai Tuan Penentu Kebijakan.

Kami sebagai rakyat awam selama ini tidak banyak menuntut kepada para tuan-tuan di sana. Kami diam dan legowo saat pembangunan di daerah kami seolah di anak tirikan, padahal batu bara kami tidak ada hentinya di keruk dan di kuras dari perut bumi tempat kami berpijak. Tidak ada yang kami terima selain debu dan kerusakan alam yang semakin lama semakin merusak lingkungan hidup kami.

Tapi kali ini kami hanya meminta suara kami di dengar layaknya suara dari rakyat kalian lainnya. Kami hanya ingin memberikan sedikit nafas buat anak cucu kami, agar mereka bangga memiliki alam kaya nan subur. Kami hanya berharap agar tuan disana yang menentukan kebijakan sudi menyisakan sepetak tanah untuk anak cucu kami, dimana diatas tanah itu mereka masih bisa bangga berkata “Kami Anak Kalimantan Bangga Menjaga Paru-paru Dunia”.

Diterbitkan oleh Ais elkirami

Ais elkirami adalah seorang blogger yang perduli dengan nilai-nilai sosial sebuah kehidupan masyarakat. Konsisten dalam menulis, dan siap belajar dari siapa pun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *