Ragam Dunia Sosial Kehidupan Masyarakat & Penyakit Apatisme

Ragam Dunia Sosial Kehidupan

Ragam Dunia Sosial Kehidupan Masyarakat.- Jika kita membicarakan berbagai macam ragam kehidupan masyarakat maka kemungkinan kita akan menemukan terlalu banyak rupa di dalam nya. Pengaruh kehidupan masyarakat yang sangat dipengaruhi dengan nilai social yang ada pada sebuah masyarakat suatu saat mungkin akan menjadi sebuah peradaban, yang mana kita akan disebut-sebut sebagai nenek moyang peletak dasar peradaban tersebut.

Sama halnya dengan nenek moyang kita jaman dulu yang membentuk nilai-nilai kehidupan dimasa kita sekarang. Rasanya tidak berlebihan kala mana saya menyebutkan akan datang masanya bahwa kitalah yang akan bertanggung jawab atas nilai kehidupan generasi sesudah kita. Dan sebenarnya inilah alasan kenapa saya berusaha konsisten menyebarkan ide-ide saya tentang sebuah nilai kehidupan social. Tak segan mengkritik jika memang harus dikritik, tak bungkam walau sebenarnya diluar sana akan sangat banyak kemungkinan yang menyakitkan.

Amal Jariyah Sebuah Ragam Dunia Sosial Kehidupan.

Ada beberapa hal yang mempengaruhi kehidupan anak-anak kita di masa mendatang. Pendidikan karakter dalam sebuah rumah tangga & nilai kehidupan yang di anut oleh sebuah masyarakat. Kedua hal ini seolah sulit sekali untuk kita pisahkan.

Secara individu pendidikan karakter dalam sebuah rumah tangga akan melahirkan sudut pandang dan pemikiran anak-anak mereka. Sementara nilai social kehidupan yang di anut sebuah masyarakat akan mempengaruhi pola pemikiran yang terjadi kala itu.

Sebuah nilai social masyarakat akan menyebar layaknya sebuah virus yang saling menjangkiti pola pemikiran antar satu sama lain. Mereka yang tidak dibekali dengan pendidikan karakter akan dengan sangat mudah terumbang-ambing mengikuti arus jaman. Tanpa pertahanan yang kuat pola hidup masyarakat berubah, cara pandang mereka akan bergeser kemana arus besar nilai-nilai yang ada disebuah masyarakat.

Sebuah hukum yang tidak tertulis adalah nilai social sebuah masyarakat. Baik atau buruk sesuatu akan dinilai berdasarkan pola pemikiran yang dianut oleh sebuah masyarakat tersebut. Jika nilai social masyarakat mengatakan itu baik, maka jadilah dia baik. Dan itu juga berlaku sebaliknya.

Misalnya: orang dahulu berlaku dalam kehidupan mereka bahwa jika seorang laki-laki dan wanita jalan berdua, duduk-duduk ditempat sepi adalah sesuatu yang tabu dan dianggap melanggar etika social. Maka jadilah hal tersebut adalah hal buruk jika dilakukan. Namun sepertinya nilai kehidupan itu mulai digeser oleh kondisi kekinian.

Dijaman sekarang anak muda dan mudi pacaran bukan lagi hal yang tabu dan melanggar etika social, maka jadilah adanya sebuah pembenaran dalam hal tersebut.

Dan mereka yang paling bertanggung jawab atas pergeseran nilai-nilai kehidupan social tersebut tentu saja masyarakat itu sendiri. Merekalah yang harus bertanggung jawab atas amal jariyah entah baik atau buruk kehidupan social dikemudian hari.

Bertahan Dengan Ragam Dunia Sosial Kehidupan Lama Yang Baik.

Bertahan atau mempertahankan nilai-nilai kehidupan social masyarakat bukanlah hal mudah. Perputaran keadaan dan kondisi social harus dilakukan oleh kelumpuk mayoritas, karena pada dasarnya merekalah yang paling cepat mempengaruhi pola pemikiran dan pola kehidupan social sebuah masyarakat.

Hanya saja terkadang itu kurang disadari oleh mayoritas masyarakat itu sendiri. Sikap apatisme terhadang lingkungan hidup menjadi sebuah penyakit yang akan berdampak buruk kepada tatanan kehidupan masyarakat lama. Tidak perduli dengan bagaimana kehidupan lingkungan nya, selama bukan “aku” atau selama bukan “keluarga ku”.

Jika yang bergeser adalah nilai-nilai kehidupan social masyarakat yang buruk, maka mungkin tidak mengapa. Namun bagaimana jadinya jika apatisme menjadi sebab pergeseran nilai social khidupan masyarakat yang baik, yang sudah ditanamkan secara konsisten oleh nenek moyang kita.

Misalnya: kakek nenek kita sudah mengajarkan dan mencontohkan bagaimana kehidupan yang bersahabat dengan alam. Memanfaatkan alam tanpa merusaknya, namun malah menjaga dan merawatnya. Tidak ada tanah kosong atau lapang kecuali mereka titip disana bibit pohon yang 10 tahun kemudian setelah mereka tidak hidup lagi menjadi tumbuhan penghasil oksigen untuk anak cucu mereka. Berbuah lebat yang buah-buah nya masih dinikmati oleh generasi sesudahnya.

Namun apa jadinya kala mana apatisme menjadi penyakit masyarakat. Tidak ada lagi sikap perduli dengan alam, tidak perduli lagi berapa banyak pohon besar tumbang untuk kepentingan sesaat. Jangan kan menanam bibit baru, bahkan pohon lama mulai digunduli habis-habisan secara masal. Alam pun bisa rusak karena bergesernya nilai kehidupan social sebuah masyarakat, apalagi hanya sebuah etika dan tata karma yang tidak nampak terlihat.

Jika Bukan Kita, Lalu Siapa?

Jika bukan kita yang perduli dengan kehidupan social masyarakat dan norma-norma kehidupan, lalu siapa lagi yang akan menyalurkan, menjadi perantara agar nilai-nilai itu sampai kepada anak cucu kita dikemudian hari. Ragam dunia sosial kehidupan masyarakat kita ada ditangan kita, mau dibawa kemana?

Diterbitkan oleh Ais elkirami

Ais elkirami adalah seorang blogger yang perduli dengan nilai-nilai sosial sebuah kehidupan masyarakat. Konsisten dalam menulis, dan siap belajar dari siapa pun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *