Pelajaran Dasar Tentang Sholat

Belajar tentang sholat adalah sebuah kewajiban sebagaimana wajibnya mengerjakan sholat itu sendiri.

Sholat adalah tiang agama, maka mereka yang meninggalkan sholat dengan sengaja tanpa adanya uzdur yang dibenarkan termasuk meruntuhkan agama dalam dirinya. Terlalu banyak kalangan ulama dan kiyai yang dengan sangat gemblang membahas seputar kewajiban sholat bagi umat Islam, tinggal bagaimana kita dalam peraktiknya dikehidupan kita.

Sholat secara bahasa bermakna doa. Sementara sholat secara syara’ adalah sebuah perbuatan dan ucapan yang dimulai dari takbiratul ihram hingga salam yang dilakukan secara berurutan. Sholat memiliki beberapa qaidah penting yang dinamakan dengan rukun sholat, syarat sah sholat, pembatal sholat, dan sunat sholat.

Sholat adalah bagian penting dari agama Islam, bahkan sholat termasuk kedalam rukun Islam yang lima. Sholat menempati rukun ke dua setelah mengucapkan dua kalimat syahadat atau kalimat penyaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.

Karena itulah sholat menjadi sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan umat muslim dimana pun berada. Sholat menjadi kewajiban muthlak yang harus dilakukan dalam kehidupan sehari-hari bagi umat muslim, bahkan Islam memberikan ganjaran yang berat bagi mereka (umat Islam) yang dengan sengaja meninggalkan sholat. Namun dinegri kita mungkin itu tidak diberlakukan karena memang negara kita bukan negara yang berasaskan hukum Islam.

Penting! Jika sholat adalah kewajiban yang harus dilakukan oleh muslim, maka menuntut ilmu tentang sholat pun hukumnya wajib juga. Karena tidak mungkin seseorang bisa sholat dengan baik dan sempurna tanpa didasari oleh pengetahuan tentang sholat itu sendiri.

Syarat Wajib Sholat.

Walau pun sholat adalah tiangnya agama Islam, namun tidak semua orang diwajibkan mengerjakan sholat. Setidaknya ada sejumlah syarat hingga mewajibkan sholat.
Pelajaran Dasar Tentang Sholat

1.Islam.
2.Aqil baligh/sampai umur.
3.Berakal.
4.Tidak dalam keadaan haid atau nifaz.
5.Telah sampai kepadanya dakwah tentang kewajiban sholat.

Mereka yang diluar golongan tersebut tidak diwajibkan mengerjakan sholat, seperti; orang gila, anak kecil yang belum baligh, wanita yang sedang haid atau nifas, atau mereka yang memang tidak tahu bahwa sholat adalah sebuah kewajiban bahkan belum pernah dia dengar ada orang yang mengatakan tentang sholat.

Namun bagi setiap orang Islam (muslim) yang sudah sampai umur, dan berakal sehat, serta tidak dalam keadaan haid atau nifas. Maka jika dia telah mengetahui tentang kewajiban sholat tidak ada alasan baginya untuk meninggalkan sholat, kecuali memang dalam keadaan uzdur yang dibenarkan dalam syari’at Islam.

Dalam Islam bahkan orang yang dalam keadaan sakit tetap diwajibkan sholat, hanya saja dia mendapatkan keringanan dalam mengerjakan nya, semisal: boleh dilakukan dalam keadaan berbaring, atau bahkan dengan isyarat mata bagi mereka yang tidak memiliki kemampuan untuk menggerakan anggota tubuhnya.

Mereka (muslim) yang dengan tidak sengaja meninggalkan kewajiban sholat seperti ketiduran menurut jumhur dikalangan ulama-ulama tetap diwajibkan mengerjakan sholat dengan cara di qadha’ diluar waktu sholat. Ini menunjukan bagaimana kewajiban sholat adalah sesuatu yang sangat penting bagi umat muslim secara umum.

Syarat Sah Sholat.

Adapun syarat sahnya sholat termasuk didalamnya, diantaranya:

1.Masuk waktu sholat.
2.Suci dari hadast kecil maupun hadast besar.
3.Suci badan, pakaian, dan tempat dari najis.
4.Menutup aurat.
5.Menghadap kiblat.

Waktu-waktu sholat jelas memiliki pembahasan dasar tersendiri, namun secara umum kita umat muslim sudah mengetahui dimana saja waktu-waktu sholat. Biasanya ditandai dengan kumandang azdan di mesjid dan surau. Namun jika ingin mengetahui secara mendetail tentang pembagian waktu dan masuknya waktu sholat bisa melakukan browsing atau bertanya kepada kiyai atau ustazd di sekitar kita.

Seseorang muslim yang dalam keadaan berhadast, apakah hadast kecil atau hadast besar maka sholatnya tidak sah walaupun semua rukun sholat dilakukan dengan benar. Itulah kenapa seseorang yang ingin melakukan sholat wajib bersuci seperti berwudhu terlebih dahulu untuk mensucikan dari hadast kecil. Adapun jika berhadast besar semisal: setelah bersih dari haid dan nifas, atau selesai melakukan hubungan badan suami-istri maka diwajibkan mandi janabah untuk membersihkan diri dari hadast besar.

Begitu juga mereka yang ada kena najis, entah dibadan, dipakaian, atau tempat yang dimana dia melakukan sholat. Tidak sah sholatnya orang yang dalam keadaan bernajis semisal: pakaian yang kena kencing, atau pakaian yang kena darah, dll. Najis sendiri memiliki pembahasan khusus tentang itu, termasuk pembagian najis ada berapa, dan bagaimana cara membersihkan nya.

Menutup aurat dengan sempurna adalah syarat sahnya sholat. Para imam mazhab berbeda pendapat tentang batasan aurat. Namun dinegri kita ini yang mayoritas bermazhab syafi’i auratnya adalah untuk laki-laki yang merdeka diantara pusar dan lutut, sementara untuk wanita merdeka seluruh tubuhnya kecuali wajah dan tapak tangan.

Random Post
1 of 6

Rukun-Rukun Sholat.

Sementara untuk rukun sholat, yang pernah kami baca dari berbagai kitab-kitab karya berbagai ulama jumlahnya berselisihan namun kebanyakan sama saja. Perbedaan terjadi karena pengelumpukan nya saja, misalkan ada yang menyebutkan sujud dengan tuma’ninah dalam satu rukun sementara yang lainnya membedakan nya sujud satu rukun dan tuma’ninah dalam sujud rukun yang lain.

Pelajaran Dasar Tentang Sholat

Rukun sholat :

1.Berdiri tegak bagi yang kuasa.
2.Niat dalam takibratul ihram.
3.Takbiratul ihram.
4.Membaca surah Alfatihah.
5.Ruku’ dengan tuma’ninah.
6.I’tidal atau berdiri tegak dengan tuma’ninah.
7.Sujud dengan tuma’ninah.
8.Duduk antara dua sujud dengan tuma’ninah.
9.Duduk tahiyat akhir.
10.Membaca tahiyat akhir.
11.Membaca syahadat.
12.Membaca sholawat atas nabi.
13.Membaca salam yang pertama.
14.Tertib.

Disini kami tidak ingin mempermasalahkan soal jumlah, yang harus kita perhatikan adalah tentang rukun-rukun nya. Misalkan seperti berdiri tegak bagi yang kuasa adalah bagian rukun yang wajib, namun memiliki syarat jika memang memiliki kemampuan. Seandai tidak memiliki kemampuan, semisal sakit berdiri tegak sehingga harus membutuhkan kursi maka tidak mengapa.

Begitu juga dengan niat, menurut ulama-ulama syafi’iyah niat itu bertepatan dengan rukun takbiratul ihram. Saat kita mengucap kalimat “Allahu Akbar” di antara huruf A pada awal kalimat “Allah” dan RA pada akhir kalimat “Akbar”. Niat termasuk rukun qalbi, sebuah rukun yang dilakukan oleh hati sementara takbiratul ihram termasuk rukun qauli atau rukun yang diucapkan dengan lidah sehingga dua rukun tersebut dilakukan secara bersamaan.

Sementara mengucap lafazd niat sebelum mengucapkan takbir bukan termasuk rukun, karena yang dinamakan niat adalah : mengqasad sesuatu di dalam hati besertaan/bersamaan/berbarengan dengan perbuatan. Itulah kenapa ulama-ulama menyebutkan niat itu saat kita sudah mengucapkan takbir, karena takbiratul ihram atau takbir yang pertama dalam sholat termasuk bagian pekerjaan sholat.

Adapun membaca lafadz niat, mengangkat kedua tangan saat mengucapkan takbir itu bukan rukun, melainkan sunat-sunat sholat yang berpahala jika dikerjakan namun tidak membatalkan sholat jika ditinggalkan.

Begitu juga meletakan kedua tangan antara di bawah dada dan di atas pusar, membaca doa iftitah, membaca surah setelah membaca surah alfatihah juga hukumnya sunat bukan termasuk rukun.

Dan juga bukan rukun bacaan saat ruku, bacaan saat i’tidal, bacaan saat sujud, bacaan saat duduk antara dua sujud. Dan takbir yang ada diantara pekerjaan-pekerjaan tersebut, karena takbir yang menjadi rukun hanyalah takbiratul ihram atau takbir yang pertama saat kita melakukan sholat.

Pembagian Rukun Sholat itu ada 3 rukun:

1.Rukun qalbi yakni niat di dalam hati saat takbiratul ihram.
2.Rukun qauli yakni: bacaan takbiratul ihram, bacaan surah alfatihah, bacaan tasyahud atau tahiyautil akhir, bacaan syahadat di tahiyat akhir, bacaan sholawat kepada nabi di tahiyat akhir, dan terakhir salam yang pertama.
3.Rukun fi’li atau perbuatan, seperti; berdiri tegak, ruku, i’tidal, dua kali sujud, dan duduk pada tahiyatul akhir. Begitu juga tuma’ninah dan tertib termasuk rukun fi’li yang dikerjakan bukan dibaca dengan lisan atau hati.

Adapun yang dimaksud dengan tuma’ninah adalah berhenti sejenak atau diam sebentar. Sejenis sepasi dalam sebuah tulisan. Sejumlah ulama berpendapat kadar ukuran tuma’ninah adalah sekedar untuk membaca tasbih sekali. Tuma’ninah bertujuan untuk membedakan antara satu rukun dengan rukun yang lain, sehingga jelas perbedaan antara dia sedang sujud atau bukan, dll.

Pembatal Sholat.

Sementara yang membatalkan sholat seperti: mengucapkan sesuatu yang bukan bacaan dalam sholat, mengerjakan sesuatu yang bukan pekerjaan sholat 3 kali berturut-turut, terbuka aurat, berhadast kecil atau hadast besar, makan dan minum.

Catatan penulis!!!

Mungkin yang kami tulis hanyalah pembelajaran dasar tentang sholat, adapun untuk penjelasan terperinci bisa anda tanyakan kepada kiyai atau ustazd disekitar anda. Saya tidak menganjurkan anda belajar secara otodidak, karena sholat bukanlah perkara ringan yang bisa dilakukan dengan hanya mencoba-coba.

Karena mungkin akan ada sejumlah pengecualian yang hanya bisa dibahas berdasarkan permasalah-permasalah yang timbul kemudian, misalkan bagaimana sholat orang kena najis sementara dia tidak tahu bahwa dia kena najis?. Bagaimana sholat orang yang kena darah semisal jerawat atau bisul yang pecah saat dia sholat?, dll.

Pembahasan-pembahasan hal yang demikian mungkin tidak kami tulis dengan selengkap-lengkapnya. Bahkan mungkin kami tidak mungkin menyertakan sejumlah argomentasi seperti dari sumber dalilnya, dan dari mana hadistnya. Kenapa? Karena kami tidak ingin anda belajar secara otodidak dari sekedar membaca dan memahami secara mandiri tanpa adanya guru yang akan menjadi pembimbing.

Leave A Reply

Your email address will not be published.