Merasa Mampu Seolah Sudah Menjadi Tuhan

Optimis itu perlu, namun jangan sampai mengambil sifat tuhan yang maha berkuasa & menguasai.

Bayangkan saja kalau misalkan setiap permasalahan kita harus diselesaikan oleh diri kita sendirian, mungkin akan ada banyak masalah dalam kehidupan kita. Tuh! Itulah kenapa belakangan ini banyak orang yang terhimpit masalah, dari para orang tua hingga kalangan anak muda yang seharusnya bisa menikmati lebih banyakkehidupan yang diberikan oleh tuhan.

Percaya atau tidak! Banyak kalangan yang ternyata ingin menjadi tuhan. Ya! Banyak orang yang ingin mengambil posisi tuhan, dengan tanpa di sadari oleh orang tersebut. Berjalan tegak seolah merasa sanggup melakukan apapun, dan mampu menghadapi permasalahan apa saja dengan seorang diri. Sikap optimis yang berlebihan, namun kemudian justru mengambil sifat-sifat tuhan yang maha berkuasa dan maha menguasai alam sejagat.

Kita boleh optimis & percaya diri akan kemampuan diri sendiri. Kita boleh yakin bisa melakukan sesuatu hal dengan kemampuan diri sendiri, namun jangan sampai meremehkan hal tersebut. Sikap meremehkan sebuah pekerjaan, dan menaifkan bantuan orang lain sendiri bagian sikap sombong seolah-olah tuhan mewakilkan dirinya kepada kita.

“AH.. itu hanya masalah kecil, nanti sajalah melakukan nya. Aku sendiri yang akan melakukan nya nanti, nggak usahlah nunggu atau minta bantuan orang lain”. Sebuah pernyataan arogan yang seolah ingin mengatakan, bahwa kita memiliki kemampuan. Kita melupakan bahwa kekuasaan adalah bagian sifat yang hanya dimiliki oleh tuhan. Secara tak sengaja bahkan kita ingin mengambil kedudukan tuhan yang maha berkuasa & maha menguasai segala sesuatu.

Dalam banyak hal sikap optimis memang dibutuhkan, sekedar untuk memicu semangat & menambahkan durungan dalam mengerjakan pekerjaan tersebut. Namun bukan berarti dengan mengambil sifat ketuhanan dengan merasa memiliki kemampuan melakukan banyak hal. Sebagai manusia sih harusnya kita pandai menempatkan diri dalam banyak kesempatan.

Rejeki adalah urusan tuhan, dia yang menciptakan semua makhluk nya & tentu saja dia juga yang akan menjamin setiap rejeki yang akan mereka makan.

Ada seseorang mertua yang merasakan keberatan kepada anak nya yang berniat menambah momongan, padahal anak mereka yang kecil-kecil sudah tiga orang. Ada yang berumur 10 tahun baru sekolah kelas 5 SD. Ada juga yang baru berumur 7 tahun & yang adik baru berumur 5 tahun. Melihat hal tersebut seorang mertua pun menasehati anaknya yang wanita untuk tidak menambah momongan lebih dahulu.

Random Post

“Maaf nduk! Entar saja dulu, nanti suami mu kewalahan cari makan buat anak-anak kamu, sekarang usaha serba susah & sulit nduk” kata seorang mertua yang hanya di balas dengan senyuman oleh anaknya.

“Tapi mah! Ini kan mau nya mas juga” anak wanitanya hanya berdalih menuruti kemauan suaminya.

Permasalahan yang seperti ini sering kita dengar di kalangan masyarakat kita. Takut punya anak banyak, takut uang buat makan, sekolah, dan kebutuhan anak-anak lainnya tidak tercukupi. Seolah-olah yang ngasih makan anak-anaknya adalah para orang tua. Tanpa sengaja ingin mengambil kekuasaan muthlak tuhan tentang siapa yang memberikan rejeki kepada hamba-hambanya.

Dulu ada seorang kiyai yang mempunyai anak banyak, namun beliau tetap tenang dalam mehadapi kehidupan. Orang kemudian menanyakan kepada beliau rahasia dalam kehidupan rumah tangga beliau, khususnya masalah ekonomi. Karena walau tidak terlihat usaha yang berlebihan, dengan jumlah anak yang tidak bisa dikatakan sedikit. Anak-anak kiyai justru banyak yang menuntut ilmu keberbagai daerah, bahkan ada yang sampai ke luar negri.

Beliau berujar “Seandainya aku yang memberikan makan mereka (anak-anak beliau) maka aku pun juga tak mampu, tapi rejeki mereka memang sudah memiliki takaran-takaran masing. Yang menciptakan mereka (tuhan) lah yang ngasih mereka makan”

Terkadang …

Kita masunia ternyata banyak lupanya, bahkan yang lebih parahnya banyak seolah ingin mengambil posisi tuhan tanpa kita sadar. Merasa mampu memberi makan & rejeki anak istri, merasa mampu memutuskan mana yang salah & benar serta tak ingin di salahkan seolah pilihan kita pasti benar, dll. Itulah kita, semoga saja kedudukan kita sebagai hamba tetaplah sebagai hamba tanpa ingin merebut kekuasaan tuhan yang tak mungkin bisa kita kudeta.

Leave A Reply

Your email address will not be published.