Mengenal Aulia Mencintai Ulama Untuk Mendapatkan Syafa’atnya Anbiya

Mengenal Aulia Mencintai Ulama

Mengenal Aulia Mencintai Ulama Untuk Mendapatkan Syafa’atnya Anbiya” Aulia dan ‘Ulama yang menjadi pewaris para nabi-nabi adalah wasilah kita untuk menuju Allah. Walau mungkin ada sebagian saudara seiman kita yang menafi’kan akan wasilah, bahkan mungkin lebih extreme dengan mengatakan bahwa tidak ada wasilah dalam kehidupan kita karena itu adalah sebuah kemusyrikan. Namun kita anggap saja perbedaan itu karena kesalahan komunikasi antara kita, perbedaan dalam mendefinisikan makna dan arti wasilah itu sendiri sehingga terjadi sebuah sudut pandang yang berbeda.

Wasilah yang kita pahami adalah perantara bukan berarti kita meyakini bahwa wasilah lah yang mampu menyampaikan akan hajat kita kepada Allah. Hal pertama yang ingin saya tekankan adalah tentang mengesakan Allah dalam kehidupan kita haruslah mengjadi i’tikad hati kita bahwa “Tidak ada yang memiliki kekuasaan dan kemampuan kecuali Allah”. Hanya saja Allah memang menyuruh kita untuk mendapatkan nya dan mencari wasilah agar sampai kepada tujuan tersebut.

Sama halnya dengan kita berusaha dan berikhtiar dalam mencari rejeki yang sudah dijamin Allah. Berusaha itu syariat yang tuhan suruh kepada kita, bukan berarti usaha yang akan memberikan kita rejeki. Karena rejeki muthlak Allah yang beri. Yang nama nya usaha ikhtiar maka wajib hukumnya sesuai dengan apa-apa yang memang sudah menjadi ketentuan syariat, jadi usaha ikhtiar pun tidak harus mengabaikan halal dan haram. Karena halal dan haram harus dan wajib kita perhatikan.

Menjadikan & Mengenal Aulia dan ‘Ulama, Serta Orang Sholeh Sebagai Wasilah.

Menjadikan Aulia’ dan ‘Ulama, Serta Orang Sholeh Sebagai Wasilah
Apakah menjadikan orang sholeh sebagai wasilah adalah sebuah kesalahan atau kemusyrikan? Jawabnya tidak. Karena bagaimana pun usaha ikhtiar adalah perintah tuhan, namun usaha ikhtiar juga tidak boleh melanggar aturan agama. Kita dilarang menjadikan orang sholeh sebagai sesembahan, kita dilarang meng-i’tikadkan bahwa ada yang mampu memberikan manfaat selain Allah. Itu adalah aturan baku dalam aqidah keimanan kita.

Namun, mencintai dan menjadikan mereka (orang sholeh) sebagai i’tibar dan panutan kita untuk mendekatkan diri kepada Allah, seumpama mencontoh amal ibadah mereka, mencontoh akhlak mereka, belajar kepada mereka, dll. Tentu saja itu adalah perintah tuhan dan suruhan dalam agama.

Allah dan Rasulnya sudah mencontohkan tentang itu. Bagaimana Al-qur’an menceritakan para orang sholeh dijaman dahulu, menceritakan kisah-kisah para nabi dan rasul. Semua itu menjadi pelajaran buat kita. Tuhan menjadikan orang sholeh dan para nabi-nabi jaman dulu sebagai wasilah agar kita umat yang belakangan ini bisa lebih memahami, dan lebih mengerti bagaimana mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sehingga mengenal orang-orang sholeh, kemudian mencintai mereka, dan mengikuti amal ibadah mereka adalah sesuatu bentuk pengamalan arti tersembunyi dari ayat-ayat yang menceritakan kesholehan para nabi-nabi dan rasul dijaman dahulu.

Utamanya adalah mengenal nabi kita sendiri yakni nabi Muhammad SAW dan orang-orang sholeh yang mengikuti beliau, bukankah Al-qur’an sendiri yang mengatakan bahwa nabi kita (Nabi Muhammad SAW) adalah sebaik-baik uswahtun hasanah, maka mengenal beliau dan mengenal para ‘Ulama dan orang sholeh yang mengikuti beliau adalah sebaik-baik pelajaran bagi kita. Dan itu adalah bentuk wasilah yang nyata, yang Allah ciptakan antara kita dengan Allah. Kita tidak mungkin bisa mengenal Allah, tidak mungkin bisa beribadah kepada Allah dengan benar, kecuali melalui wasilah Rasulullah SAW yang mengajarkan kita, dan melalui para ‘ulama yang menyampaikan pelajaran itu kepada kita.

Salah satu makna dua kalimat syahadat yang selalu kita ucapkan adalah: menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya tujuan kita, dan menjadikan Rasulullah SAW sebagai wasilah kita menuju Allah SWT itu sendiri. Kita tidak akan bisa sholat dengan benar kecuali mengikuti Rasulullah SAW, dan kita tidak akan mengenal Rasulullah SAW dengan baik kecuali dengan belajar kepada ‘ulama dan orang sholeh yang mengikuti pengajaran beliau.

Tidak mengakui adanya wasilah antara kita dengan Allah sebenarnya hanyalah kesombongan diri semata, seolah-olah kita bisa menghadap tuhan tanpa perantara layaknya Rasulullah SAW di saat isra dan mi’raj. Kesombongan itu justru membuat kita kehilangan adab terhadap Rasulullah SAW yang memang Allah jadikan sebagai wasilah bagi kita kepada Allah SWT.

Apakah kita berpikir dengan sholat di baitullah dengan melihat secara langsung ka’bah di depan mata kita, sementara imam sholat kita berada di belakang kita adalah langkah yang benar dan tepat?.

Mendapatkan Syafa’atnya Rasulullah SAW.

Mendapatkan Syafa’atnya Rasulullah SAW
Apakah kita berpikir bahwa syafa’at akan datang kepada kita dengan cuma-cuma? Apakah syafa’at Rasul akan diberikan kepada mereka yang bahkan jauh melenceng dari sunah beliau? Apakah syafa’at diberikan kepada mereka yang ahli maksiat dan kufur? Atau apakah syafa’at diberikan kepada mereka yang meremehkan aturan agama?

Bukan itu maksud kami disini. Syafaat adalah sebuah pertolongan yang diberikan oleh orang lain kepada kita, namun kita juga harus paham bahwa syafa’at bukan lah hadiah yang datang dengan tiba-tiba dan cuma-cuma diberikan kepada siapa saja. Syafaat diberikan kepada mereka yang memang berhak mendapatkan nya. “Kullu syai’in bi sababin” segala sesuatu dengan sebab, walau bukan sebab yang menentukan. Allah bisa saja mengumpulkan seorang mukmin dengan Rasulullah karena cintanya orang mukmin tersebut kepada Rasulullah, dan cinta itulah yang menjadi sebab berhaknya dia bersama dengan Rasulullah SAW. Sebagaimana sabda Nabi “المرأ مع من أحب”.

Rasulullah SAW Shohibul Syafa’ah

Rasulullah SAW Shohibul Syafa'ah
“Ketika hari kiamat datang, manusia berduyun-duyun mendatangi nabi Adam dan mengatakan, “Berilah syafa’at kepada rabbmu !” Adam menjawab, “Aku tidak punya hak, pergilah kalian kepada Nabi Ibrahim karena dia adalah kekasih Allah Azza wa Jalla ,” mereka mendatangi Nabi Ibrahim, nabi Ibrahim berkata,” Aku tidak punya hak, pergilah kalian kepada Nabi Musa karena dia adalah kalimullah (orang yang diajak bicara langsung oleh Allah). mereka mendatangi Nabi Musa, nabi Musa berkata,” Aku tidak punya hak, pergilah kalian kepada Nabi Isa karena dia adalah ruhullah dan kalimatNya,” Mereka mendatangi Nabi Isa, nabi Isa berkata,” Aku tidak punya hak, pergilah kalian kepada Nabi Muhammad.” Maka mereka mendatangiku, maka aku katakan, “Ya aku punya hak, maka aku minta idzin kepada rabbku, maka Dia memberiku idzin ….”.

Nabi kita (Nabi Muhammad SAW) memang diberikan hak oleh Allah SWT untuk memberikan syafaat kepada umatnya, namun apakah kita sudah benar-benar hak menyandang sebagai umat beliau. Atas dasar apa label itu disematkan kepada kita? Apakah sunnahnya sudah kita laksanakan? Apakah para pewarisnya (‘ulama dan orang sholeh yang mengikuti beliau) sudah kita datangi dan kita ikuti ilmu, amal, dan akhlaknya?.

Disinilah kenapa kami membahas itu secara berurutan. Agar kita bisa mengambil pelajaran dari ‘ulama dan orang sholeh, kemudian berharap bahwa baginda nabi mengakui kita sebagai umatnya. Jika mengenal mereka saja kita enggan, apalagi mencintai mereka tidak ada, menghadiri majelis mereka malas, mengamalkan pengajaran mereka tidak tahu. Lalu atas dasar apa kita mengaku umat nabi Muhammad SAW? Kemana kita mengambil mata rantai ilmu dan amal?

Diterbitkan oleh Ais elkirami

Ais elkirami adalah seorang blogger yang perduli dengan nilai-nilai sosial sebuah kehidupan masyarakat. Konsisten dalam menulis, dan siap belajar dari siapa pun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *