Memahami Pengertian Fiksi Dan Karya Fiksi

Penulisan karya fiksi bukanlah semata sebuah hayalan dan imajinasi, perlu adanya analisa tentang realita yang terjadi.

Fiksi adalah sebuah gambaran realita yang sudah terjadi atau belum terjadi. Fiksi bukan realita, namun fiksi adalah gambaran, imajiner, atau sesuatu yang mencerminkan realita. Fiksi menurut Altenbernd dan Lewis ( 1966 : 14 ) dapat diartikan prosa naratif yang bersifat imajinatif, namun masuk akal dan mengandung kebenaran dan mendramatisasi hubungan-hubungan antar manusia.

Apakah fiksi itu berbeda dengan karya fiksi?

Tentu berbeda!, karena fiksi adalah sebuah keterangan sifat untuk mendefinisikan sesuatu. Sedangkan karya fiksi sendiri adalah sebuah karya yang yang berbentuk sesuai sifatnya. Fiksi dan karya fiksi semisal: manis dan rasa manis. Manis adalah sebuah istilah untuk mendefinisikan rasa tertentu sesuai sifat dan keterangan nya, sementara rasa manis adalah bentuk dari sifat dan keterangan tentang rasa tersebut.

Karya fiksi bisa dihasilkan oleh seseorang sesuai dengan gambaran realita yang ada, bisa berbetuk cerpen, novel, dll. Seorang penulis novel atau cerpek fiksi biasanya akan menggambarkan tentang kehidupan realita, namun karena itu hanya novel dan cerpen tentu saja dia sendiri bukan sebuah realita.

Dalam sebuah novel hasil karya fiksi biasanya akan menceritakan sejumlah tokoh, tempat, dan kejadian yang bisa saja hanyalah tokoh fiktif, atau kejadian fiktif yang di ada-ada. Namun, tokoh, dan kejadian tersebut diambil berdasarkan realita yang terjadi. Karya fiksi dibuat untuk menyampaikan sebuah pesan moral, dan lain sebagainya dalam bentuk kemasan yang di dramatisir agar menggugah setiap pembacanya.

Random Post
1 of 23

Apakah karya fiksi mengandung kebenaran?.

Ya! Karena fiksi adalah sebuah gambaran imajiner tentang realita, maka tentu saja sebuah karya fiksi mengandung kebenaran yang bisa dipertanggung jawabkan.

Contoh sebuah tulisan fiksi:

“Kabut embun pagi menyelimuti permukaan bumi, kala mana hujan-hujan telah membasahi bagian akhir malam yang terasa sangat sepi dan dingin. Aku pun merapatkan kedua telapak tangan ku ke dada, untuk sekedar memberikan kehangatan pada tubuh kecil ku yang sudah mulai lelah menapaki jalan terjal kehidupan.

Aku tahu tuhan sedang menatap ku, memanggil nama ku untuk datang kepadanya. Sementara iblis sedang berdendang ria agar aku menarik kembali selimut tebal yang akan membuat ku nyaman. Namun, mata ini seolah tak ingin ketinggalan panggilan suci kumandang adzan yang dengan sayup mayup saling bersahutan dari beberapa menara mesjid.”

Tulisan di atas adalah sebuah tulisan yang menggambarkan tentang realita kehidupan kita, menggambarkan bagaimana waktu subuh yang kebanyakan memang berembun dan terasa dingin. Orang akan malas untuk sekedar bangun menenuaikan kewajiban nya untuk sholat. Sementara pesan yang ingin disampaikan adalah agar kita tetap istiqamah untuk bangun menunaikan kewajiban kita sebagai seorang muslim dan mukmin, walau begitu beratnya perjuangan menjalankan sholat subuh tersebut.

Leave A Reply

Your email address will not be published.