Melawan Propaganda Islamophobia Agar Anti Kalimat Tauhid

Melawan Propaganda Islamophobia Agar Anti Kalimat Tauhid

Melawan Propaganda Islamophobia.- Mencuatnya kepermukaan isu dan kasus pembakaran bendera bertulisan dengan kalimat tauhid menjadi rame dalam nuansa pro kontra. Namun sebenarnya ada hal yang menarik di balik semua itu, yang mana kita harus bijak menyikapinya. Bersikap adil dan melepaskan keinginan hawa nafsu dalam menilai sesuatu agar objektif dalam bersikap adalah keharusan saat ini.

Anda boleh untuk tidak sepakat dengan tulisan dan pendapat saya. Namun kita sama-sama berharap dengan isu dan kasus yang Nampak kepermukaan tidaklah menjadi sebab sebuah perpecahan, namun sebaliknya yang justru akan menjadi pemersatu ukhuwah islamiyah kita dalam tali agama Allah.

Ada satu isu penting yang sebenarnya yang terangkat dibalik semua kejadian belakangan ini. Itu bendera HTI (ormas yang dinyatakan terlarang), itu bendera teroris, itu bendera kelumpuk radikal, dll. Begitulah isu yang terangkat dan opini yang hendak dan akan disebarkan oleh sekelumpuk orang.

Kalimat Tauhid Itu Kalimat Suci.

Bagi umat Islam kalimat tauhid adalah kalimat sakral yang menjadi simbol sebuah keimanan, memang bukan gambaran keimanan dalam kata artian yang menunjukan bahwa orang yang menggunakan nya adalah pasti orang beriman. Namun setiap orang yang beriman kepada Allah dan Rasulullah SAW pasti akan mengucapkan nya dan memuliakan kalimat tersebut.

Karena itu sangat wajar jika kelumpuk umat Islam banyak menggunakan nya sebagai simbol identitas. Tidak dipungkiri banyak ormas, golongan, hingga sebuah Negara yang menjadikan kalimat tauhid sebagai lambang mereka. Yang jadi masalah saat kalimat tersebut digunakan oleh sekelumpuk orang yang jauh dari makna kalimat tersebut. Sekelumpuk orang yang kemudian menimbulkan kesan tidak mengenakan.

Karena itu penting bagi umat muslim secara umum untuk memahami pokok permasalahan nya. Bendera dengan tulisan tauhid yang sejati harus dijaga karena disana tertuliskan kalimat tauhid, namun menjadi kurang mengenakan karena digunakan oleh sekelumpuk orang yang berlaku keluar dari tuntunan agama Islam, seperti: melakukan tindakan kriminal, melakukan terror, dll.

Yang salah bukan benderanya, namun orang yang menggunakan nya. Benar bukan? Karena itulah maka tempatkan lah permasalahan pada duduk masalahnya masing-masing.

Kasus Dan Isu Yang Sama Juga Pernah Menimpa Agama Dan Aturan Islam.

Jauh sebelum ini jika kita memperhatikan sudah ada isu dan kasus yang hampir mirip, hanya saja itu menimpa kepada nama Islam. Islam di barat pernah di cap sebagai agama teroris oleh kalangan Islamophobia, hanya karena ada sekelumpuk muslim yang melakukan terror karena kejahilan nya terhadap agama Islam.

Untungnya umat muslim sedunia menolak keras pembawaan nama agama Islam atas aksi terror tersebut. Umat muslim tidak pernah mengakui bahkan ikut mengutuk tindakan terror tersebut. Umat muslim menjelaskan kepada dunia bahwa Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin sebagai mana yang dibawa oleh junjungan kita Rasulullah SaW.

Mereka menjadikan aksi terror tersebut sebagai senjata menyebarkan paham rasisme mereka terhadap Islam. Mereka menyebarkan isu propaganda Islamophobia kepada dunia, seolah-olah agama Islam memang pantas untuk ditolak. Namun propaganda mereka gagal total karena kesatuan umat Islam dalam menyikapi permasalahan tersebut.

Pun begitu juga pernah menimpa anjuran agama Islam di negri kita ini. Misalkan dalam kasus jenggut, pernah ada sekelumpuk orang yang berusaha menyebarkan isu dan opini bahwa jenggut adalah ciri khos kelumpuk radikal, kelumpuk yang suka membid’ah kan saudara seagamanya, kelumpuk yang dengan mudah mengkafirkan dan mensyirikan saudara seagamanya. Hanya karena mereka yang pernah membid’ah bid’ah kan amalasan saudara seagamanya mayoritas berjenggut.

Padahal dalam kenyataan nya benar jenggut benar sunnah Rasulullah SAW, ulama-ulama moderat ASWAJA dulu pun banyak yang mengamalkan nya. Mereka berjenggut, mereka menggunakan nya. Sehingga sangat disayangkan bahwa jenggut dijadikan alat propaganda untuk menyerang kelempuk tertentu.

Siapa Yang Salah, Dan Harusnya Bagaimana?

Kita tidak perlu menyalahkan orang lain, karena sebenarnya kitalah yang salah. Kenapa kita harus mau diprovokasi oleh sekelumpuk orang yang menisbatkan agama Islam dan sunnah Rasulullah SAW kepada kelumpuk radikal, intoleran, gagal paham agama, dll tersebut. Kita mau saja digiring menyebutkan kelumpuk terror dengan sebutan terorisme islam, yang padahal apa yang dilakukan nya menyalahi ajaran agama Islam sehingga berakibat adanya phobia Islam.

Kenapa juga kita mau saja menjadikan jenggut yang nyata sebagai sunnah Rasulullah SAW sebagai ciri khos kelumpuk mereka yang mudah membid’ahkan amalan saudaranya.

Dan sekarang kita masih mau saja digiring kepada opini bahwa bendera bertuliskan tauhid adalah benderanya kelumpuk intoleran, radikal, dll. Yang berakibat kepada adanya phobia terhadap bendera-bendera bertuliskan tauhid.

Kenapa bukan anda yang menggunakan nya. Kenapa bukan umat muslim yang lurus berpegang teguh kepada tali agama Allah SWT saja yang menggunakan nya. Sehingga tidak ada lagi kesan phobia jenggut, phobia bendera tauhid, dan phobia Islam.

Dalam hal bendera bertuliskan kalimat tauhid, coba kita ambil alih dari tangan-tangan kelumpuk radikal, intoleran, gagal paham agama. Jadikan itu sebagai ciri khos kita. Katakan kepada mereka yang radikal “kalian tidak berhak menggunakan bendera bertuliskan tauhid, karena itu bendera milik kami umat muslim yang rahmatan lil ‘alamin”.

Pada aksi 212 di monas kemarin umat muslim dari berbagai ormas dan golongan melepaskan atribut mereka. Mereka menyatukan diri dan mengambil alih bendera bertuliskan kalimat tauhid, sehingga tidak lagi itu sebagai bendera ormas tertentu. Itu sebenarnya adalah sebuah pencapaian yang menakjubkan. Semua kelumpuk dari berbagai ormas dan golongan mengibarkan bendera bertuliskan tauhid, dan mereka menolak radikalisme, dll.

Diterbitkan oleh Ais elkirami

Ais elkirami adalah seorang blogger yang perduli dengan nilai-nilai sosial sebuah kehidupan masyarakat. Konsisten dalam menulis, dan siap belajar dari siapa pun.

2 pemikiran pada “Melawan Propaganda Islamophobia Agar Anti Kalimat Tauhid”

  1. Tonii mengatakan:

    Allohuakbar, mantap nih kang
    Saya sangat setuju

    Pendapat saya nih ya, coba beri pehaman kepada sekelompok orang yang kemaren bakar bendera tauhid tersebut, saya kira mereka belum faham dengan apa yang mereka lakukan. Ajak belajar agama.

    Mungkin karena fakir ilmu.

    Walohualam.

    Nuhun

    1. Ais elkirami mengatakan:

      Tidak mudah memberikan pemahaman kepada orang lain, apalagi jika kita bukan siapa-siapa. Jaman sekarang sedikit unik, jika kita bukan siapa-siapa maka biasanya suara kita hanyalah suara layaknya angin lalu. Harusnya mereka yang memiliki posisi kuat, punya nama yang besar dengan sederet title akademisnya lah yang berusaha memberikan pengertian, bukan kita yang tampang ajah unyu-unyu hehe…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *