Maulid Bid’ah! Logika Nya Harus Benar

Bagaimana kita memahami pernyataan maulid itu bid'ah.

Bid’ah menjadi perdebatan hingga sekarang di banyak kalangan. Padahal itu permasalahan yang sudah selesai dibahas oleh banyak kalangan di era sebelum kita hidup.

Katanya maulid itu sesuatu yang bid’ah, benar nggak sih?.

Katanya perayaan maulid nabi besar Muhammad SAW itu bid’ah. Itu sih katanya, tapi benar nggak sih. Jadi untuk mengatakan vonis dari sejumlah kalangan tentang perayaan maulid itu bid’ah benar atau salah, kita harus benar-benar tahu penjelasan nya secara akurat. Cara terbaiknya adalah dengan bertanya kepada para kiyai, ustazd, atau ulama yang ada di sekitar kita. Pahami dengan baik penyampaian nya, bukan di telan dengan mentah-mentah begitu saja.

Menurut kang Ais bid’ah nggak sih perayaan maulid?.

Menurut saya maulid itu khilafiyah yang mana tergantung anda melihatnya. Dari segi bahasa memang bid’ah. Itu jika kita menggunakan definisi sesuatu yang baru atau tidak pernah di kerjakan oleh Rasulullah & para sahabat adalah bid’ah. Pengertian bid’ah secara bahasa sendiri adalah sesuatu yang baru, yang tidak atau belum pernah dilakukan oleh siapa pun.

Kalau bid’ah berarti sesat dong berdasarkan sebuah hadist yang menyebutkan bahwa setiap bid’ah itu sesat?

Owh! Tunggu dulu, saya tidak mengatakan begitu koq. Saya berpegang kepada pendapat para mujtahid terdahulu yang menyebutkan bahwa bid’ah terbagi banyak pembagian. Ada bid’ah yang sesat namun ada juga bid’ah yang baik & benar.

Pendapat saya juga bukan tanpa argumen hadist. Karena jika kita perhatikan dalam kutipan hadist yang di sampai kan justru menurut saya menunjukkan bahwa memang bid’ah terbagi banyak pembagian. Bukan semua yang berbau bid’ah itu sesat.

Perhatikan kalimat “Kullu Bid’atin Dholalah”.

Kata “Bid’atin” di sana justru menggunakan isim makrifah yang di tandai dengan tanwin. Ini menunjukkan bahwa tidak semua bid’ah itu sesat. Ada yang harus kita pahami, bahwa memahami sebuah hadist berdasarkan makna bukan berdasarkan arti bahasa yang di terjamahkan ke dalam bahasa Indonesia. Hadist di sampaikan dengan menggunakan bahasa arab, maka memahaminya pun tentu berdasarkan kaidah-kaidah bahasa arab, bukan dengan kaidah bahasa Indonesia. Nanti logika nya kacau kawan! Ini serius.

Misalkan saja kita sering mendengar istilah “Baitullah” untuk Ka’bah atau mesjid. Kalau kita artikan ke dalam bahasa Indonesia artinya “Rumah Tuhan”, yang kalau menggunakan definisi Indonesia maka artinya tempat tinggal nya tuhan. Apakah “Baitullah” itu tempat tinggal tuhan? Apakah tuhan itu di Mekkah? Tentu saja jawabnya tidak, karena ada makna tersendiri di sana.

Memangnya beda ya kalau bid’ah dengan menggunakan isim makrifah?

Tentu saja berbeda! Dalam bahasa arab menurut kaidah nahwu dimana sebuah mata pelajaran yang membahas makna dan perubahan kalimat. Isim terbagi dua, yakini; isim makrifah & isim nakiroh.

Isim makrifah bermakna khusus sementara isim nakiroh bermakna umum. Misalkan kata “ Rajulu” yang artinya laki-laki & “Rajulun” yang juga artinya laki-laki namun menggunakan tanwin itu berbeda memahaminya.

Kalau “rajulu” itu sipatnya umum, yang termasuk laki-laki maka masuk ke dalam kata tersebut. Misalkan “Qama Rajulu” yang artinya “Telah berdiri laki-laki” maka menurut yang mengatakan semua laki-laki berdiri tanpa ada pengecualian. Ini berbeda jika menggunakan isim makrifah, misalkan; “Qama Arrajulu atau Qama Rajulun” yang artinya “Telah berdiri laki-laki” maka maksudnya si pengucap bukan semua laki-laki namun laki-laki yang dimaksud memiliki spesifikasi tertentu yang di pahami oleh si pendengar.

Random Post
1 of 2

Dalam makna khusus yang ada pada isim makrifah mengandung makna pengecualian, dalam pengecualian berarti ada makna pembagian. Ini berdasarkan kaidah nahwu yang menjadi standar tata bahasa arab. Alqur’an & Hadist adalah sumber utama ilmu Nahwu, atau Alqur’an & Hadist sesuai dengan ilmu Nahwu karena ilmu Nahwu memang di ambil dari sana.

Ternyata begitu yah cara mengambil maknanya?

Ya iyalah! Itu baru dari satu sudut mata pelajaran saja, belum lagi dari segi lainnya seperti; mantiq & balagah serta ilmu penunjang lainnya. Dari sini harusnya kita paham alasan kenapa ulama & mujtahid jaman dulu membagi bad’ah dalam banyak pembagian. Karena dalam hadis tersebut memang menunjukkan adanya pembagian.

Jadi maulid itu Bid’ah atau tidak?.

Meningkatkan Kecintaan Kepada Nabi Melalui Acara Maulid.

Maulid itu bukan bid’ah sesat. Karena untuk mengatakan sesat atau tidaknya harus ada standar yang  jelas untuk itu. Jika hanya berargumentasikan bahwa bid’ah tidak pernah di kerjakan oleh Rasulullah SAW saja sehingga maulid adalah Bid’ah yang sesat, menunjukkan betapa sempitnya pemikiran kita.

Ada banyak hal yang tidak dilakukan oleh Rasulullah SAW sebagai manusia biasa. Namun, bukan berarti tugas Rasulullah SAW belum sempurna menyampaikan risalah. Karena secara garis besar semua telah di sampaikan, entah di perbuat oleh Rasulullah SAW atau tidak. Semua nya sudah sempurna di sampaikan, hanya saja butuh pemahaman yang kuat serta kesucian hati untuk mencerna setiap permasalahan yang datang kemudian setelah Rasulullah wafat.

Misalkan nabi Muhammad SAW menganjurkan kita berlomba-lomba dalam kebaikan & memberikan manfaat kepada orang lain. Sehingga apapun kebaikan dan hal yang bermanfaat secara umum, entah kepada diri sendiri atau orang lain adalah anjuran nabi selama tidak menyalahi aturan-aturan syariat.

Soal maulid! Kita lihat bagaimana pelaksanaan nya, apakah ada yang menyalahi syari’at agama yang telah di turun kan oleh ALLAH SWT melalui nabinya, atau tidak. Semua kegiatan pada dasarnya boleh selama tidak ada aturan yang melarangnya & selama tidak ada yang menyalahi hukum-hukum agama.

Terkadang kita melakukan kumpul bareng keluarga, mengadakan upacara hari besar kenegaraan, dll. Semuanya boleh selama tidak ada yang melanggar hukum halal & haram. Namun, jika sudah memperbuat yang haram, misalkan: kumpul bersama kawan sambil minum-minum keras maka perkumpulan tersebut terlarang. Jika seandainya kumpul bersama teman, kemudian di isi dengan mengaji & membaca Al-Qur’an maka perkumpulan tersebut sangat di anjurkan.

Ini kembali kepada sebab yang mendatang, bukan karena suatu perkumpulan boleh atau tidak secara asal. Begitu juga acara pembacaan maulid nabi. Bukan acaranya yang menyebabkan keberkahan, namun isi dari acara tersebutlah yang menentukan. Hukum mengadakan nya mendatang dikarenakan sebab yang mendatang.

Seandainya acara maulid di isi dengan hal yang haram, seperti: mabuk-mabuk, dll. Maka jelaslah hukumnya haram. Namun bukan karena acaranya adalah acara maulid, melainkan karena isi pelaksanaan nya dengan sesuatu hal yang haram. Begitu juga semua acara keduniaan lainnya.

Perayaan maulid tidak menambah-nambahkan syariat agama. Maulid bernilai ibadah karena isi pelaksanaan nya yang memang di anjurkan seperti: membaca sholawat, Al-Qur’an, silaturrahmi, sedekah, dll. Bahkan acara apapun jika di isi dengan ibadah maka acara tersebut akan bernilai ibadah. Apalagi acara maulid yang di adakan untuk meningkatkan kecintaan kepada sang nabi dan sebagai ungkapan syukur atas di utusnya seorang nabi yang sangat mulia.

Maulid itu bid’ah, menambah-nambahkan syariat, menuruti pekerjaan orang kafir, ibadah yang di ada-ada tanpa dalil.

Apakah ada masalah dengan bid’ah, bukankah imam syafi’i mengatakan bahwa ada banyak ragam bid’ah, dari yang sesat hingga yang terpuji. Tidak ada yang menambahkan syariat, ulama atau kiyai mana yang mewajibkan maulid sebagai sebuah kewajiban?, tidak ada syarat & rukun dalam maulid karena maulid adalah sebuah acara namun mengandung keberkahan & ibadah karena isi pelaksanaan nya. Dan maulid bukan ibadah yang di ada-adakan tanpa dalil, karena semua ibadah yang ada di dalam nya semua berdasarkan dalil.

Leave A Reply

Your email address will not be published.