Masalah Logika Dan Konsep Nalar Dalam Islam

Masalah Logika

Masalah Logika Dan Konsep Nalar Dalam Islam.- Logika dan nalar akal bukanlah hal yang tabu dalam Islam, bahkan Islam sendiri menganjurkan pemeluknya untuk tidak berpikiran jumut dengan taklid buta atau meyakini sesuatu tanpa adanya pemahan berdasarkan akal. Allah SWT bahkan dalam Al-qur’an banyak memberikan perumpamaan-perumpamaan atau permisalan agar manusia mau menggunakan akal mereka. Tuhan memberikan akal kepada manusia memang untuk digunakan sebagai mestinya, hanya saja terkadang kita malas untuk berpikir makanya penting sebuah panduan dalam menggunakan akal dalam menalar suatu masalah.

Masalah logika dan nalar banyak diterapkan dalam qaidah-qaidah penting dalam agama Islam. Bahkan dalam masalah aqidah umat islam harus memiliki alasan dan argimentasi sehingga keyakinan bisa dikatakan i’tikad bukan taklid semata yang hanya bisa mengatakan “Iya” tanpa tahu atau bertanya alasan nya kenapa?.

Bagi pelajar dan santri muslim mungkin sering mendengar istilah dalil naqli dan aqli atau argumentasi nash.tekstual berupa ayat dan hadits dan argumentasi akal berupa logika dan nalar manusia. Islam mengajarkan untuk seimbang dalam memahami sebuah permasalahan antara argumentasi yang dinuqil/diambil berdasarkan nash berupa ayat suci maupun hadits nabi dan argumentasi akal yang didapatkan berdasarkan pemikiran si ampunya diri. Bahkan sebenarnya dalam mengambil nash/menggunakan dalil ayat atau hadits juga membutuhkan logika dan nalar agar menemukan sebuah kesimpulan.

Masalah Logika Itu Liar.

Logika itu liar jika kita umpamakan seekor binatang, jika dia berjalan tanpa kendali maka dia tidak akan sampai kepada tujuan. Logika hadir berdasarkan sejumput pengetahuan yang dimiliki oleh diri. Seorang anak kecil yang memahami bahwa besi itu berat, bahkan jika diletakan diatas air maka dia akan tenggelam. Dalam akal nya akan merasa aneh kenapa sebuah pesawat terbang bisa terbang di udara, nalar dan logikanya akan menulak secara otomatis. Namun berbeda bagi orang dewasa apalagi seorang profesor ahli pembuatan pesawat terbangan, justru saat sebuah pesawat dibuat sedemikian sempurna maka justru logikanya akan menolak jika pesawat tersebut tidak bisa terbang.

Itulah kenapa nalar setiap orang berbeda-beda dan tidak sama, karena adanya banyak faktor yang menjadi pengendali logika itu sendiri. Sehingga sangat masuk akal jika logika tidak mampu melogikan sebuah permasalahan. Bukan logikanya yang salah, tapi si pemilik nalar/akal yang tidak memiliki kapasitas untuk itu, sehingga nalar dan logikanya harus dikembangkan lebih baik lagi.

Masalah Logika Tanpa Ilmu Itu Menyesatkan.

Mungkin kita sudah merasa yakin tentang sebuah masalah, karena nalar akal kita mengatakan demikian adanya. Namun sadarkah kita bahwa ternyata logika juga mampu membuat kita seolah linglung dan sesat dalam keadaan tanpa disadari. Bahkan menurut kami kesesatan karena salah logika itu sesuatu yang sangat berbahaya, karena:

1.Biasanya orang tidak sadar bahwa dia sedang tersesat.
2.Biasanya orang merasa benar saja tanpa mau berusaha lagi mencari tahu kembali.
3.Logika tanpa pengetahuan sebagai mercusuar nya cendrung fanatik buta dengan diri sendiri.

Logika memang penting, namun pengetahuan juga penting. Keduanya akan bersinergi dalam memecahkan sebuah masalah. Logika akan memproses sebuah pengetahuan, karena nya tidak mungkin logika akan berjalan normal tanpa pengetahuan mengingat apa yang harus diprosesnya. Yang dalam bahasa agama di istilahkan bahwa “Ilmu itu lentera akal”. karena nya penting untuk kita menempatkan keduanya dalam porsinya masing-masing.

Sebagaimana kita umpamakan sebelumnya, bahkan seorang ilmuwan yang memang kenyang akan pengetahuan terkadang memiliki nalar yang berbeda dengan anak kecil, karena seorang ilmuwan memiliki lentera sebagaimana bidang yang dikuasainya.

Dalam Islam Masalah Logika Tidaklah Bebas Menentukan.

Islam melihat nalar dan logika sebagai bagian sifat manusiawi, namun karena liarnya logika maka dibutuhkan beberapa pedoman yang akan menjadi rambu-rambu penting dalam sebuah masalah. Ayat-ayat yang difirmankan, maupun pesan-pesan yang disampaikan melalui utusan nya menjadi kebenaran muthlak yang akan menjadi rambu-rambu umat muslim dalam menalarkan sebuah masalah.

Dalam Islam logika dan nalar bukanlah satu-satunya sumber yang akan dijadikan tingkah laku dalam menentukan sebuah masalah. Antara argumentasi akal dan yang nuqil (ayat dan hadits) haruslah berjalan searah. Banyak kasus yang oleh orang jaman dahulu secara akal sulit untuk diterima, namun kebenaran ayat justru terungkap secara gemblang setelah dunia memasuki jaman modern.

Karena itu jika akal dan ayat berbenturan, maka iman harus berpihak kepada ayat. Karena tidak mungkin firman tuhan yang terungkap kebenaran nya secara gamblang itu salah. Jika pun ada yang belum bisa kita pahami secara logika dan belum terbukti kebenaran nya maka secara logika jika yang sudah terungkap semuanya benar, maka bisa diterima dalam logika akan sangat bisa dan sangat mungkin bahwa yang belum terungkap pun sama kebenarannya.

Jangan Jadikan Diri Kita Tuhan Dengan Berdalil Logika.

Logika, nalar, atau akal dan bahasa yang sebangsa dengan nya adalah fitrah suci manusia. Tuhan yang menciptakan nya sebagai bagian dari makhluknya yang berakal. Dan akal itu juga yang membedakan kita dengan binatang dan tumbuhan. Namun jangan pula kita menuhankan diri kita dengan menganggap bahwa nalar, logika, dan akal manusia pasti benar. Itu akan membawa kita kepada kemusyrikan dan menyekutukan Allah SWT, seolah-olah kita ingin menempatkan diri kita selayaknya tuhan yang pasti dan maha benar.

Jika logikanya kita dahulu pernah salah, lalu dengan alasan apa kita bisa menjamin bahwa logika dan nalar kita hari ini dan dikemudian hari pasti benar. Jika orang-orang jenius jaman dahulu juga pernah salah menempatkan nalar dan logika, lalu atas dasar apa kita mengatakan bahwa logikanya orang sekarang dan orang masa depan pasti benar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *