Kunci Rezeki Dan Arogan Kita Dengan Jaminan Tuhan

Kunci Rezeki Dan Arogan Kita Dengan Jaminan Tuhan

Mencari Rezeki Halal Buat Keberkahan Bukan Kemewahan.- Entah sampai kapan manusia akan menyalahkan orang lain atas cobaan dan ujian yang menimpa dirinya. Manusia memang makhluk dengan standar dengan dua sisi antara akal dan nafsu, berbeda dengan malaikat yang memiliki cukup dengan akal sehingga akan selalu mengabdi kepada ilahi.

Manusia adalah satu dari sekian banyak makhluk tuhan yang sudah dijamin akan rezekinya. Sudah dijamin Allah SWT loh! Bukan jaminan Negara, jaminan penguasa, jaminan suami, jaminan perusahaan, atau jaminan lainnya. Tuhan sang pencipta alam lah yang sudah menjamin. Tapi kenapa manusia terlalu ketakutan dengan rezekinya masing-masing, seolah-olah manusia ragu akan kekuasaan Allah SWT.

Itu karena manusia memiliki hawa nafsu yang selalu membuat hati was-was akan keberadaan rezeki tuhan. Hawa nafsu bahkan terkadang menyesatkan sudut pandang manusia akan yang namanya rezeki dari ilahi. Seolah-olah yang namanya rezeki adalah harta dan uang saja.

Saya al-faqir tidak mengata-ngatai orang lain, apa yang saya tulis adalah apa-apa yang terkadang saya rasakan. Begitu bodohnya al-faqir, walau terkadang kesadaran selalu bangkit menjelaskan segalanya. Itulah bukti antara akal dan hawa nafsu yang terus mengobarkan peperangan dalam kepribadian kita. Terkadang itu membuat diri kita lelah, dan berusaha sejenak keluar dari peperangan tersebut, namun kita tidak sanggup melakukan nya.

Harkat Dan Martabat Suami Sekaligus Ayah Yang Baik.

Soal rezeki, nafkah kehidupan, uang, pekerjaan tidak melulu karena keserakahan sehingga membuat kita menjadikan nya beban berat. Terkadang harkat dan martabat kita sebagai seorang suami sekaligus ayah dari anak-anak kita membuat kita terus saja memikirkan itu.
Kita malu jika kita dianggap tidak mampu memberikan nafkah kepada anak bini kita. Kita menginginkan kehidupan layaknya para suami dan ayah kebanyakan, yang mereka mampu membelikan baju dan pakaian buat anak bininya.

Dan itu yang akan terus membuat kita memikirkan bagaimana memberikan hasil keringat kita kepada anak bini kita. Bukan soal jumlah yang sebenarnya sudah cukup dalam keluarga kita, tapi soal harga diri kita yang merasa sebagai pemimpin dalam sebuah keluarga. Bahkan terkadang karena inilah kita sanggup bersikap arogan kepada Allah SWT dengan meminta yang ajaib-ajaib kepadanya dengan nada yang sedikit memaksa. Bahkan tidak sekali dua kita seolah-olah hendak menyalahkan tuhan atas hasil yang kecil dari usaha kita. Kita mempertanyakan kepada tuhan “kenapa cuman sebegini tuhan?”.

Sikap Arogan Terhadap Jaminan Tuhan.

Kita sadar dengan sepenuh hati bahwa rezeki adalah jaminan tuhan, takaran nya juga dikadarkan berapa jumlahnya. Tidak akan lebih bahkan tidak akan kurang. Tapi kita manusia terkadang bersikap arogan akan jaminan tersebut.

Kita dengan terang-terangan melawan tuhan yang memberi rezeki, dengan melanggar aturan dan suruhan nya dengan dalih sibuk mencari rezeki. Kita lupa sholat, kita lupa dzikir, kita lupa berdoa, dll kepada Allah SWT. Kita hanya sibuk di kantor, tempat kerja, lapangan terbuka, dll. Dalihnya sederhana, mencarikan nafkah buat anak bini kita.

Apalagi namanya kalau bukan arogan, kita menentang tuhan yang memberikan rezeki. Seolah-olah kita ingin mengatakan kepada tuhan bahwa kita mampu mencari lebih dari ketetapan nya yang sudah qath’i. padahal kunci rezeki kita adalah kedekatan kita dengan nya, kehamba’an kita kepadanya, kepasrahan dan kepatuhan kita bertuhan kepadanya.

Kunci Rezeki Adalah Taqwa Dan Tawakkal Hanya Kepada Allah

Allah SWT berfirman, “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikannya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya). Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki-Nya). Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq [65] : 2-3)

Melakukan syariat itu perlu sebagai wujud kehambaan karena diperintahkan nya, tapi kewajiban lain dan usaha pendekatan kepadanya juga penting. Allahu Akbar!! Astagfirullah !!! ampuni dosa kami tuhan, dosa sikap arogan dengan ketetapan jaminan mu, semoga kami bisa belajar banyak dari kesalahan kami.

Diterbitkan oleh Ais elkirami

Ais elkirami adalah seorang blogger yang perduli dengan nilai-nilai sosial sebuah kehidupan masyarakat. Konsisten dalam menulis, dan siap belajar dari siapa pun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *