#SaveMeratus: Suara yang Terabaikan dari Tanah Borneo

Hutan Karst Pegunungan Meratus

Apa yang anda bayangkan jika mendengar “Kalimantan” atau “Tanah Borneo” di sebut oleh orang? hamparan hutan hijau yang sangat alami, membentang luas dengan nuansa keindahan alamnya.

Anda tidak salah! namun sayangnya belakangan ini itu sangatlah menakutkan. Bukan karena hutan belantaranya, namun hutan yang disebut-sebut sebagai paru-parunya dunia ini sudah terancam kehancuran. Saya tidak mengada-ada! tanah luas dengan hutan hijau alami itu di ancam oleh keserakahan manusianya.

Pegunungan Meratus yang katanya hutan hijau alami, tempat hidup fauna dan flora di ancam karena kekayaan bawah tanahnya berupa emas hitam (batu bara). Iya! tambang batu bara memang cara instan mendapatkan pemasukan buat negri ini, tapi akan ada banyak yang dikorbankan jika itu terus dilakukan.

Kadang saya berpikir “Kenapa tanah kami ini dibawahnya ada kekayaan alam berupa batu bara tersebut“. Karena kekayaan itulah, hutan hijaunya tempat masyarakat, binatang, dan tanaman bergantung hidup dihancurkan. Bahkan pegunungan Meratus yang berada di kawasan kabupaten HSS dan HST yang selama ini dianggap atapnya meratus juga terancam keadaannya karena tambang.

Meratus Tidak Lagi Hijau.

Jika selama ini kalian menganggap bahwa hutan Meratus adalah hutan alami yang disana tumbuh pohon-pohon besar yang menjadi penyumbang terbesar oksigen. Namun beberapa tahun akan datang sudah saatnya itu di ubah, karena Meratus bukan lagi hutan belantara melainkan kawasan tambang.

Perlahan tapi pasti kerusakan alam Meratus akan terjadi karena aktivitas tambang yang hanya akan menyusahkan masyarakat banyak. Bulsyit alasan ekonomi, karena faktanya masyarakat sekitar sudah sejak lama hidup disana jauh sebelum tambang menghancurkan alam.

Untuk pembangunan negara, negara mana? negara api? fakta yang terjadi masyarakat sekitar jauh dari kata layak, bahkan kehidupan mereka yang mengandalkan pertanian, perkebunan, dan hasil hutan terancam keberadaannya. Beratus tahun lamanya masyarakat sekitar hidup dengan prinsip alama adalah kehidupan, kini dibantai habis-habis dengan melakukan perusakan sumber kehidupan itu.

Alam Sumber Kehidupan

Alam adalah amanah sekaligus anugerah yang tuhan titipkan kepada umat manusia. Kita tidak terlalu jauh berbicara tentang kehidupan sosial, dan ekonomi sebuah masyarakat. Pengelolaan alam yang salah tidak pantas berbicara kebutuhan masyarakat banyak. Jangankan memberikan yang lebih baik, bahkan mempertahankan yang sudah tuhan beri saja tidak mampu.

Sejumlah aktivis lingkungan hidup, dan mereka yang perduli dengan alam sudah menyuarakan aspirasinya. Namun sayangnya, semuanya hanya dipandang sebelah mata tanpa di dengar. Masyarakat pinggiran Meratus melalui Walhi bahkan sudah mengupayakan berbagai cara untuk menjaga tanah Meratus.

Kali ini tidak banyak catatan. Karena vedio ini sudah cukup jelas menggambarkan meratus @jokowi@khmarufamin_@prabowo@sandiuno#SaveMeratus#PresidenSelamatkanMeratus#SelamatkanRimbaTerakhir#BorneoMenggugat#BersihkanIndonesiaVedio bang Busu Bsrock RQ

Dikirim oleh Incus Srilah Fatih Salma pada Kamis, 04 April 2019

Parau Sudah Suara Rakyat, Para Elit Bermain Cantik.

Ini memang terdengar gila, sebuah pulau yang sangat kaya akan SDA nya tapi kehidupan ekonomi dan pembangunan dimasyarakatnya seolah berjalan seperti siput.

Jika Jakarta sudah ada kereta cepat, jangan mimpi ada di tanah Kalimantan. Bahkan kereta munguk pun tidak nampak terlihat. Tentu berbeda dengan tetangganya Malaysia dan Brunai. Negara tetangga maju, walau masih satu pulau. Isu di anak tirikan itu bukan isu baru di kalangan masyarakat. Bahkan pernah mengurucut menjadi isu referendum dan hak otonomi khusus.

Di tahun 2018 masyarakat geger karena SK Kementerian ESDM yang menaikkan izin perusahaan tambang ke izin produksi, walau AMDALnya pun tidak ada. Masyarakat protes, berbagai jalan ditempuh hingga pengadilan. Tapi hasilnya apa? mengecewakan semuanya bungkam, seolah masyarakat yang hidup di tanah meratus tidak berharga.

Tagar #Savemeratus dinaikkan. Sebagai wujud sebuah perlawan. Tapi apa? bahkan di tahun politik sekalipun yang biasa partai dan wakil rakyat mengumbar janji, semuanya hening. Rakyat dibiarkan teriak tanpa jelas ditanggapi apa.

Kenapa? parau sudah suara rakyat, bahkan mengeluarkan pernyataan saja mereka seolah terlalu takut. Apakah takut karena perusahaan-perusahaan tambang itulah sumber duit mereka, sumber sponsor kampanye mereka? jika tidak, lalu kenapa?

Diterbitkan oleh Ais elkirami

Ais elkirami adalah seorang blogger, penulis dan pemerhati topik: general, lifestyle, kesehatan, tekno, SEO, dan banyak lainnya. Seorang ayah dengan 2 anak menuju proses anak ke 3 | www.elkiram.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *