Ilmu Tasawuf Dalam Islam Sama Halnya Ilmu Fiqih Dan Tauhid

Ilmu Tasawuf Dalam Islam

Dalam hal keilmuan agama Islam, khususnya kalangan santri mungkin jika saya menyebutkan istilah nama-nama bidang ilmu tersebut maka itu bukanlah hal yang aneh. Tauhid, Fiqih, dan Tasawuf adalah satu kesatuan ilmu syariat yang memiliki sumber yang sama yakni Al-qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.

Dahulunya dijaman Rasulullah SAW, para sahabat dan tabi’in ilmu agama adalah satu kesatuan yang mungkin kita sebut dengan istilah ilmu syariaat. Tidak ada perbedaan di dalam penggunaan istilah-istilah tersebut, yakni sebuah ilmu yang disandarkan kepada Al-qur’an dan sunnah. Walau dalam kenyataan Al-qur’an dan sunnah membahas berbagai macam ilmu, dari hal-hal ibadah, ubudiyah, muammalah, akhlak, aqidah, dll.

Dari 3 bidang keilmuan “Tauhid, Fiqih, dan Tasawuf” maka ilmu fiqih adalah yang pertama muncul dalam istilah tersendiri. Setidaknya bisa kita lihat berdasarkan hadirnya mazhab-mazhab yang bergerak dibidang tersebut, seperti mazhab maliki, hanafi, syafi’i, dan hambali. Dimana imam-imam mazhab adalah generasi salaf yakni 3 abad pertama sesudah jaman kenabian.

Lahirnya Istilah Ilmu Fiqih.

Imam Maliki lahir di tahun ke 93 Hijriyah di kota Madinah dan meninggal di tahun 179 Hijriyah. Ibnu Hayyan berkata,” Malik adalah orang yang pertama menyeleksi para tokoh ahli fiqh di Madinah, dengan fiqh, agama dan keutamaan ibadah”. Beliau adalah seorang ulama yang ahli dalam hadits, karena memang banyak belajar dari para tabi’in yang tinggal di kota Madinah.

Sementara murid beliau Imam Syafi’i dilahirkan pada tahun 150 Hijriyah di Gaza Palestina, dan meninggal pada tahun 204 Hijriyah di Mesir. Walau Imam Syafi’i adalah murid Imam Malik, namun dalam masalah fiqih terkadang beliau berbeda pendapat. Sementara Imam Syafi’i sendiri memiliki seorang murid yakni Imam Ahmad Bin Hambal atau yang kita kenal dengan Imam Hambali ( Tahun 164 H – 241 H ).

Sementara pendiri mazhab Hanafi yakni Al-imam Nu’man bin Tsabit At-Taymi atau yang kita kenal dengan Abu Hanifah lahir pada tahun 80 Hijriyah di Kuffah dan meninggal di Baghdad pada tahun 148 Hijriyah. Imam Hanafi sendiri termasuk generasi tabi’in karena pernah berjumpa dengan sejumlah sahabat seperti Sayyidina Anas bin malik dan sejumlah sahabat yang ikut perang Badar. Beliau banyak belajar dan meriwayatkan hadits dari para sahabat, dan disebut-sebut tokoh pertama yang mengarang kitab fiqih berdasarkan pengelompukan bab taharah ( bersuci ), shalat, dan seterusnya.

Ilmu fiqih juga bukanlah ilmu baru atau ilmu yang bersumber dari selain Al-qur’an dan Sunnah. Justru ilmu fiqih adalah sebuah bidang keilmuan yang diambil dari dua sumber tersebut.

Tokoh Sufi Panutan.

Istilah ilmu tasawuf memang lebih belakang jika kita bandingkan dengan istilah fiqih. Namun sebenarnya sejumlah tokoh yang menjadi imam besar tasawuf dan menjadi rujukan sendiri adalah kalangan tabi’in, seperti: Al-imam Hasanul Basyri yang lahir di tahun 21 Hijriyah dan anak susuan Ummu Salamah istri Rasulullah SAW, dan beliau meninggal pada tahun 110 Hijriyah.

Bagi santri di Indonesia pasti tahu dengan nama besar Imam Hasanul Basyri, beliau banyak belajar kepada sejumlah sahabat ternama seperti: Sayyidina Utsman Bin Affan, Abdullah bin Abbas, Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah, Abdullah bin Umar, dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib serta lainnya.

Beliau Imam Hasanul Basyri termasuk ulama yang mendukung pola hidup sederhana dan nilai zuhud. Kehidupan duniawi hanyalah jalan untuk menuju kehidupan hakiki yakni akhirat, dan menafikan kesenangan untuk mengendalikan hawa nafsu. Beliau mengajar di Basrah ( Irak ) dan mendirikan madrasah di sana. Di antara pengikut beliau yang terkenal ada Amr bin Ubaid dan Wasil bin Atha.

Perkembangan Ilmu Tasawuf Di Abad Ke 2 Hijriyah.

Sama halnya ilmu fiqih yang berkembang dan terkadang adanya silang pendapat dikalangan mujtahid dan imam mazhab, maka dikalangan ulama sufi pun sama. Tasawuf berkembang dalam banyak pemikiran, bahkan di abad ke 2 Hijriyah bisa kita katakan menjadi puncak silang pendapat, dimana berbagai aliran dan pendapat tentang keilmuan tasawuf sangat terlihat.

Diantara tokoh sufi yang hidup di abad ke 2, diantaranya:
1.Al-imam Junaid Al-baghdadi ( 210 H – 297 H).
2.Abu Yazid Al-Bustami ( 188 H – 261 H ).
3.Abu Abdullah Husain bin Mansur Al-Hallaj ( 244 H ).

Dan tentunya banyak lagi ulama-ulama tasawuf lainnya, seperti: Al-Imam Sirri Al-Saqati ( sejaman dengan Imam Ahmad Bin Hambal ) yang tidak lain adalah gurunya Al-Imam Junaid Al-Baghdadi. Bahkan jika telisik lagi keatas mereka sebenarnya masih ada sejumlah tokoh sufi lainnya seperti Abu Sulaiman Daud bin Nushair Ath-Tha’i ( 162 H) yang tidak lain juga salah satu murid Imam Abu Hanifah ( Imam Mazhan Hanafi ). Atau mungkin kita pernah mendengar nama Syaiban Ar-Ra’i yang pernah di katakan oleh Imam Ghazali dalam kitab beliau Al-Ihya bahwa Imam Syafi’i kalau duduk dihadapan Syaiban Ar-Ra’i seperti duduknya anak kecil di kuttab.

Di abad ke 2 Hijriyah inilah tasawuf semakin berkembang, bahkan bisa dikatakan cukup populer dengan berbagai aliran dan pendapat yang jika umpamakan dalam fiqih adalah khilafiyah. Perbedaan pendefinisian tentang satu masalah, dll terjadi. Seperti: berkembangnya paham wahdatul wujud, dll. Hingga sampai kepada abad ke 4 Hijriyah dimana Al-Imam Ghazali berusaha meluruskan nya kembali melalui kitab muktabar yang sangat terkenal dengan “Ihya Ulumuddin” atau kalau kita terjemah artinya menghidupkan kembali ilmu agama sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, sahabat, tabi’in seperti Hasanul Basyri, dll.

Istilah Ilmu Tauhid Di Ahlu Sunnah Wal Jamaah.

Perkembangan ilmu tauhid justru berkembang lebih akhir jika dibandingkan ilmu fiqih dan tasawuf. Setidaknya dua imam besar yakni Abu Hasan Al-Asy’Ari yang lahir di abad ke 2 Hijriyah atau imam Abu Mansur Al-Maturidi di abad ke 3 Hijriyah. Istilah Ilmu tauhid dikembangkan setelah itu, dengan beberapa ulama panutan yang kemudian meletakan dasar-dasar pemikiran nya.

Sama halnya dengan Ilmu Fiqih dan Tasawuf. Ilmu tauhid juga berkembang atas dasar Al-qur’an dan Hadits. Ulama-ulama tauhid mempopulerkan bidang ilmu ini dan memisahkan nya dengan ilmu lainnya karena faktor untuk membendung penyimpangan aqidah yang terjadi. Misalnya penyimpangan yang dilakukan oleh penganut paham Muktazilah, Murji’ah, Mujassimah, dll.

Asbab Lahirnya Bidang Keilmuan Yang Terpisah.

Jika kita mau memperhatikan dengan seksama, ternyata dari ilmu fiqih, tasawuf, tauhid itu berkembang dalam bentuk bidang keilmuan tersendiri di saat adanya penyimpangan pemahaman dari asas yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan sahabat. Sehingga para ulama perlu rasanya membahas bidang tersebut secara tersendiri berdasarkan Al-qur’an dan hadits. Sehingga di jaman kemudian nya bidang-bidang tersebut menjadi bidang keilmuan khusus yang tersendiri seolah itu adalah hal baru. Padahal dalam kenyataan nya tidak! Mereka satu kesatuan yakni ilmu syari’at agama yang memiliki mata rantai sanad keilmuan dimana berinduk dari ajaran yang diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada para sahabat-sahabatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *