Melihat Sepak Terjang Kalangan Fobia Kalimat Tauhid

Melihat Sepak Terjang Kalangan Fobia Kalimat Tauhid

Melihat Sepak Terjang Kalangan Fobia Kalimat Tauhid.- Jika beberapa tahun dulu kita dihadapkan sejumlah kalangan non muslim barat yang fobia dengan agama Islam. Kita masih bisa menerimanya dan memaklumi akan adanya kesalah pahaman tersebut. Saking anti patinya mereka sehingga sampai membikin karekator-karekator yang sipatnya melecehkan dan merendahkan agama Islam.

Namun ternyata tuhan punya rencana lain yang lebih maha dahsyat dari provokasi-provokasi yang mereka buat. Orang barat yang awalnya tidak tertarik dengan apa ajaran Islam, dan menganggap bahwa peradaban mereka adalah peradaban yang paling manusiawi. Justru belakangan karena kampanye negative yang cenderung fitnah kepada agama Islam membuat banyak dari kalangan mereka sendiri ingin mempelajari apa dan bagaimana ajaran Islam.

Hidayah adalah pemberian tuhan, namun tuhan tetap akan memberikan jalan agar hidayah itu sampai ke dalam hati mereka. Berkat rasa ingin tahu mereka itulah pada akhirnya tidak sedikit yang kemudian memeluk agama Islam. Islam kemudian berkembang dengan pesat di Negara-negara barat belakangan ini.

Fobia Kalimat Tauhid Dan Bangkitnya Semangat Keislaman.

Di saat maraknya fobia bendera dengan kalimat tauhid yang di sematkan sebagai benderanya ormas terlarang hingga simbul teroris. Pernah kah kita memperhatikan ternyata semangat keislaman justru ikut bangkit. Yang awalnya bersikap biasa saja sekarang banyak kalangan yang lebih menghidup-hidupkan semangat keislaman. Kegiatan shalat subuh berjamaah mulai dibangkitkan oleh kalangan anak muda. Kalimat takbir dan isyarat-isyarat keimanan semakin semarak ditebarkan. Semakin dia ditekan oleh sekelumpuk orang, justru semakin memaksa untuk muncul kepermukaan dengan kekuatan yang lebih besar.

Kita tidak tahu akan rencana tuhan, bisa jadi dengan mencuatnya fobia kalimat tauhid justru itu awal munculnya kecintaan kepada keislaman yang akan menjadi sebuah gerakan besar-besaran. Sama seperti bangkitnya dan bertebaran benih-benih keimanan di barat setelah para fobia Islam menyebarkan fitnah-fitnahnya.

Bersikap Adil Terhadap Saudara Kamu.

Perbedaan pendapat dalam kehidupan bernegara dan dalam menjalankan agama adalah kelumrahan. Sesuatu yang biasa terjadi selama tidak merugikan dan melakukan tindakan di luar batas, maka bersikap adil lah dan menyikapinya. Jangan hanya karena saudara mu tidak memiliki sikap politik yang sama dengan mu sehingga kita menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan. Dan jangan juga karena berbeda memahami teks agama, kita menghalalkan apa yang harusnya diharamkan diambil dari nya.

Fobia dengan bendera dengan tulisan kalimat “Tauhid” sebenarnya sesuatu yang kurang beralasan. Tapi karena tidak beralasan itulah sebenarnya sehingga dikatakan fobia. Kita menolak lambing-lambang PKI karena sejarah sudah mencatat kejadian nyata bahwa paham komunis pernah menjadi sebab pertumpahan darah dikalangan anak bangsa. Sehingga cukup beralasan jika kita menolak simbul-simbul komunis kembali dihidupkan.

Bendera bertulisan “Tauhid” memang sebuah simbul yang digunakan oleh umat muslim lintas mazdhab, lintas bangsa dan Negara, lintas suku dan golongan. Makanya wajar jika kemudian bendera itu banyak digunakan oleh organisasi-organisasi yang mengatas namakan Islam. Terlepas apakah organisasi tersebut benar-benar menerapkan aturan sesuai dengan ajaran agama Islam.

Bukan hanya sekelas organisasi, bahkan sebuah Negara pun seperti Saudi Arabia juga menggunakan simbul kalimat “tauhid” di bendera mereka. Inilah bukti bahwa bendera dengan kalimat “tauhid” itu lintas Negara, mazdhab, ormas, dll.

Tidak adil jika hanya karena bendera dengan simbul kalimat “tauhid” juga digunakan oleh sebuah ormas terlarang oleh anda, kemudian anda memberlakukan sebuah simbul yang lintas Negara, mazdhab, ormas layaknya ormas terlarang tersebut. Jika anda melakukan itu maka fobia anda sudah kelewatan batas.

Anda boleh tidak sependapat dengan tulisan saya, dan saya juga boleh tidak sependapat dengan sikap anda. Namun bersikaplah adil untuk menanggapi semua isu dan pendapat orang lain.

Diterbitkan oleh Ais elkirami

Ais elkirami adalah seorang blogger yang perduli dengan nilai-nilai sosial sebuah kehidupan masyarakat. Konsisten dalam menulis, dan siap belajar dari siapa pun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *