Belajar Mengaji Untuk Anak Bisa Kita Mulai Sejak Dini

Belajar Mengaji Untuk Anak Bisa Kita Mulai Sejak Dini

Belajar mengaji sepertinya sejak jaman dahulu hingga jaman modern akan tetap menjadi sebuah kewajiban, terlepas mau atau tidaknya. Jaman mungkin bisa berubah, dan kondisi kehidupan sosial masyarakat juga ikut berubah. Sudut pandang sebuah masyarakat pun terkadang mulai berubah, namun kewajiban agama itu tetap akan berlaku, termasuk kewajiban mengajari anak-anak kita mengaji.

Pernah membayangkan jaman nya orang tua kita dulu, atau bahkan jaman kita sendiri. Sebuah kondisi masyarakat yang mungkin masih lekat dengan tradisi ketimuran yang jauh dengan hiruk pikuk kemajuan teknologi. Buru-buru kita bicara smartphone, bahkan sejumlah daerah malah ada yang belum masuk aliran listrik. Kehidupan dan kondisi kampung halaman yang gelap gulita dengan beberapa lampu ceplok dari bambu yang berbahan bakar minyak tanah di sejumlah sudut jalan kampung.

Namun sayup-sayup masih bisa kita dengar suara orang mengaji, suara anak-anak yang belajar alif ba ta dengan lantangnya di musalla dan sudut rumah sehabis magrib menjelang isya. Ingatan yang indah bukan?. Tapi kondisi seperti itu mulai jarang kita temui, karena kehidupan sosial masyarakat memang mulai bergerak maju ke jaman nya teknologi yang serba canggih, sehingga banyak yang tanpa sengaja melupakan tradisi orang tua kita dahulu.

Bisa kah kita kembali ke masa silam, dan mengajarkan anak-anak kita mengaji dengan keindahan kehidupan sosial masyarakat yang dekat dengan Al-qur’an?.

Belajar Mengaji Untuk Anak Bisa Kita Mulai Sejak Dini.
Jawabab nya sangatlah bisa, namun harus kita tanamkan sejak dini, sebagaimana orang dulu menanamkan kita sejak dini tradisi mengaji dan membacakan ayat-ayat Al-qur’an. Jadikan Al-qur’an sebagai hiasan kehidupan kita, di rumah dan di mana pun kita berada.

Mengajari Anak Mengaji Sejak Dini.

Jika anda beranggapan bahwa mengajari anak mengaji/membaca ayat Al-qur’an kepada anak tidak perlu sedini mungkin, maka anda salah. Bahkan harusnya kita mengajarinya semenjak dia masih dalam buaian rahim ibunya. Hanya dengan begitulah dia akan terlahir menjadi anak yang mencintai Al-qur’an dan dekat dengan Al-qur’an.

Memasukan ke dalam hati mereka ayat Al-qur’an akan lebih sulit dibandingkan mengajarinya melafazdkan huruf demi huruf. Mengajari anak bukan hanya tentang iya bisa mengucapkan nya, namun bagaimana agar dia bisa merasakan bahwa ayat-ayat Al-qur’an itu sebuah keindahan dalam kehidupan kita, sehingga dia tidak akan lupa bagaimana dia belajar mengaji sampai penghabisan umur nya.

Mengajari Anak Membaca Al-qur’an Sedini Mungkin Bukan Agar Dia Bisa Mengaji.

Belajar Mengaji Untuk Anak Bisa Kita Mulai Sejak Dini.
Mengajari anak kecil, batita, balita, atau bahkan yang baru lahir bukan agar dia bisa mengaji! Terus untuk apa mengajari nya jika dia bahkan belum bisa memahami penjelasan kita. Itulah bedanya mengajari anak ilmu agama dengan ilmu lainnya. Jika kita mengajari anak kita berhitung agar dia bisa menghitung, mengajari anak kita membaca agar dia bisa membaca, namun mengajari anak kita mengaji dan ilmu agama agar hatinya meresapi dan dekat dengan Al-qur’an dan agama nya.

Bagaimana Cara Mengajari Anak Kita Membaca Al-qur’an?.

Bagaimana? Apakah dengan menjelaskan kepadanya? Oh bukan! Bahkan mungkin dia belum mampu menangkap sebuah informasi yang kita jelas, namun anak usia dini biasanya pandai mencontek pekerjaan dan kegiatan orang tuanya. Anak kecil akan mudah mengucapkan kata dan kalimat yang sering di ucapkan orang tuanya.

Lalu kenapa kita tidak mencobanya. Membaca Al-qur’an di dekat nya, membacakan ayat-ayat Al-qur’an sebagai pengiring tidurnya, memperdengarkan lantunan ayat-ayat suci Al-qur’an kepada nya, dll. Tidak mengapa dia tidak pandai menirunya, tidak mengapa dia mengabaikan nya, tidak mengapa dan tidak mengapa lainnya. Yakin suatu saat itu akan menjadi sebuah kebiasaan nya, dan melekat dalam sanubarinya yang paling dalam.

Diterbitkan oleh Ais elkirami

Ais elkirami adalah seorang blogger yang perduli dengan nilai-nilai sosial sebuah kehidupan masyarakat. Konsisten dalam menulis, dan siap belajar dari siapa pun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *