Baca Maulid Bukan Adu Qasidahan

Baca Maulid Bukan Adu Qasidahan

Sebentar lagi kita akan memasuki bulan Rabiul Awal. Bulan dimana sholawat biasanya akan lebih menggema lebih nyaring dan lantang. Di bulan ini mayoritas umat muslim biasa mengadakan acara meringatan lahirnya baginda nabi besar Muhammad SAW.

Rasa senang kan kalau dengar orang baca sholawat, bahkan hati pun rasanya adem dan bikin tenang. Bahkan bagi sebagian orang pembacaan sholawat layaknya obat penenang hati yang gundah gulana karena permasalahan-permasalahan yang ada. Ya! Itulah sebagian keutamaan sholawat, akan menenangkan hati mereka yang membacanya. Bukan hanya itu dengan sholawat orang akan lebih mencintai tuhan nya, nabi nya, dan agamanya.

Sudah selayaknya sholawat kita semarakan sebagaimana Gubernur Salahuddin Al-Ayubi dijaman dulu membangkitkan kecintaan umat Islam kepada agamanya dengan sholawat. Sholawat itu obat mujarab, bukan hanya soal akhirat, namun juga masalah duniawi. Namun jangan juga kemudian kita salah gunakan, kita tempatkan kepada sesuatu yang tidak seharusnya.

Pembacaan maulid dan hikayat nubuwah, kisah rasul, pujian kepada baginda nabi bukanlah untuk menunjukan status ekonomi, bukan juga untuk adu bacaan qiraat, atau adu qasidahan. Pembacaan maulid adalah upaya kita meningkatkan kecintaan kepada baginda nabi, dengan mengenal akhlak keperibadian nya, menggali kembali ajaran nya, memupuk kecintaan kita kepada Allah dan rasulnya.

Jika itu yang terjadi maka hendaknya kita jaga ajaran beliau dari diri kita sendiri, dengan menjaga etika akhlak kita saat melakukan acara maulid, melaksanakan ajaran Islam kala sholawat dilantunkan, mengagungkan baginda nabi sebagai uswatun hasanah yang penghulu segala nabi-nabi.

Pantas kah?

Pantas kah kita bercampur aduk antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram, kala pembacaan maulid berlangsung?

Pantas kah kita jadikan sholawat yang sejatinya mengagungkan nabi sebagai ajang hiburan & lomba berbagus suara siapa yang lebih lantang?

Lalu kemudian pantas kah kita mengatakan melakukan pembacaan maulid agar memupuk cinta kita dan di cintai oleh baginda nabi, kala mana adab & aturan etika kepada baginda nabi kita langgar dan abaikan?

Saya adalah pecinta pembacaan maulid, saya tidak mengritik pembacaan maulid, tapi saya sangat menyayangkan oknum yang berulah sesuka hati saat pembacaan maulid. Coba kita perhatikan bagaimana ulama-ulama kharismatik yang sholeh berlaku saat melakukan pembacaan maulid. Lihat bagaimana tuan guru KH. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Al-banjari saat melantunkan qasidah pujian kepada nabi. Terkadang bahkan beliau menangis karena khusyuk dan adab yang beliau lakukan.

Bandingkan dengan kita, yang berlagak gagah-gagahan, tidak jarang bercampur aduk antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram, padahal yang kita baca adalah hikayah nubuwah, kisah dan riwayat hidup seorang nabi pembawa syariat Islam. Tapi kenapa kita lakukan itu justru dengan melanggar syari’at yang beliau sampaikan?

Mari kita Tanya kembali untuk apa kita mengadakan pembacaan maulid? Agar kita bisa melakukan nya sesuai adab dan aturan etika yang seharusnya. Kita tidak sedang melakukan audisi nyanyi dangdut atau konser music, kita tidak sedang hip hop hora-hora yang sekedar asyik-asyikan.

Diterbitkan oleh Ais elkirami

Ais elkirami adalah seorang blogger yang perduli dengan nilai-nilai sosial sebuah kehidupan masyarakat. Konsisten dalam menulis, dan siap belajar dari siapa pun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *