Apa Itu Makrifat? Bagaimana Seharusnya Kita Memahaminya

Apa Itu Makrifat

Apa Itu Makrifat? Pengertian makrifat adalah: Suatu kondisi tersingkapnya semua rahasia ketuhanan. Saya lebih senang menyebutkan demikian karena memang sulit bagi kita mendefinisikan apa itu makrifat. Namun insya Allah akan mudah untuk memahami pemaknaan arti makrifah jika kita berusaha memahaminya secara berurutan dari awal.

Kita mungkin pernah atau bahkan sering mendengar istilah-istilah seperti: Syari’at, Thoriqat, dan Hakikat. Tentunya biasanya mereka yang pernah mendengar ketiga istilah tersebut sangat mungkin mendengar istilah Makrifat/Ma’rifah. Ada banyak orang yang memaknai akan makrifat tersebut, namun dalam kesempatan ini kami pun ingin berbagi pengertian makrifat dalam tatanan bahasa kami sesuai apa yang kami pahami.

Sebelum Kita Masuk Dalam Pemahaman Makrifat.

Pertama kita pahami maksud 3 istilah sebelumnya, tentang syariat, thoriqat, dan haqiqat. Syariat sendiri adalah aturan agama yang meliputi semua unsur yang ada, entah aturan aqidah (Tauhid) aturan ibadah & muammalah (Fiqih) maupun aturan akhlak (Tasawuf). Setidaknya ketiga aturan main tersebut akan kita sebut saja dia adalah syariat agama. Dalam kehidupan kita ketiga aturan tersebutlah yang akan kita jalankan. Entah aturan yang ada dalam hati kita berupa aqidah, maupun ibadah dan muammalah, serta akhlak.

Mereka yang memahami dan mengetahui dengan jelas semua aturan yang diajarkan dalam agama maka kemudian disebutkan dengan sebutan ahli syariat. Jadi yang dinamakan ahli syariat bukan hanya mereka yang menguasai masalah ibadah dan muammalah (fiqih) sahaja. Namun semua aturan dalam agama.

Tujuan dari semua aturan-aturan tersebut kemudian yang berujung kepada pendekatan kepada ilahiyah. Mereka yang mengamalkan semua aturan tersebut atau sebagian nya sebenarnya sedang berusaha mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pendekatan diri inilah yang kemudian kita sebut dengan istilah thoriqah. Thoriqah sendiri artinya adalah “jalan” atau tepatnya jalan menuju Allah.

Orang yang memahami syariat (aturan agama) kemudian mengamalkan nya maka itulah maksud dari orang yang berjalan (bethoriqat) menuju Allah SWT. Pelaksanaan nya tentu mungkin setiap orang berbeda-beda, ada yang menyibukan diri dengan zikir, sholawat, ibadah lainnya. Dan pelaksaan dalam kehidupan real juga berbeda-beda, namun tetap satu sesuai dengan aturan agama (syariat).

Jika kita umpamakan syariat adalah ilmu, maka thoriqat adalah amaliyah dari ilmu itu sendiri. Orang tidak mungkin bisa beramal (sesuai tuntunan agama) kecuali dia mengetahui aturan atau tatacara nya. Jadi seseorang tidak mungkin masuk kepada kedudukan thoriqat kecuali dia mencicipi akan syariat.

Itulah kenapa ulama-ulama yang membahas tentang itu mengumpamakan seperti buah kelapa. Syariat adalah kulitnya, thoriqat isinya, sementara hakikat adalah minyaknya. Orang tidak mungkin bisa mendapatkan minya dari kelapa kecuali dia mengupas kulitnya, dan mengulah isinya. Jangan salah memahami tentang ini, karena banyak beredar pemahaman yang keliru, seolah-olah jika seseorang sampai pada tahapan haqiqat maka tidak membutuhkan syariat. Ini pemahaman yang lucu, seolah-olah dia mampu mengambil minyak kelapa tanpa mengupas kulit kelapa itu sendiri.

Adapun haqiqat adalah buah/hasil yang Allah berikan kepada hambanya yang telah mengamalkan akan ilmu syariat tersebut. Atau dalam bahasa sederhananya adalah ilmu+amal=haqiqat, atau bisa juga syariat+thoriqat akan menuju kepada haqiqat. Ini sesuai dengan janji Allah:
“Bertaqwalah kepada Allah nicaya Allah akan mengajar kamu.” (Al Baqarah: 282).

Taqwa disini adalah ilmu dan amal, syariat yang dijalankan (thoriqat). Inti taqwa adalah aturan agama kita jalankan, kita taati, kita laksanakan. Dan itu terletak pada maqam syariat dan thoriqat. Nah buah/hasil dari taqwa itu sendiri adalah pemberian tuhan, berupa rasa dan pengetahuan tentang haqiqat rahasia ketuhanan.

Apakah haqiqat bisa kita cari? Jawaban nya tidak! Karena itu murni karunia Allah kepada hamba-hambanya yang bertaqwa. Orang banyak menggunakan istilah untuk menyebutkan pemberian tuhan ini, ada yang menyebutkan nya ilmu laduni karena itu langsung pemberian Allah ke dalam hati hambanya, dan ada juga yang menyebutnya tersingkapnya sebuah haqiqat. Haqiqat itu tidak diajarkan oleh seorang guru, guru hanya mengajarkan syariat dan melakukan bimbingan thoriqat, sementara hasilnya berupa haqiqat itu pemberian tuhan.

Bohong kalau misalkan ada yang mengejarkan dan belajar ilmu haqiqat, karena ilmu itu Allah yang punya dan itu Allah yang ngasih. Sementara guru dan murid hanya mengarahkan ke arah sana. Paham ya maksud saya?.

Makrifat Itu Tidak Bisa Di Usahai Dengan Ilmu atau Wirid (amalan).

Mungkin anda bingung memahami sub judul saya, tapi harus dipahami. Bahwa orang yang menuntut ilmu agar mendapatkan atau terbukanya haqiqat, maka dia tidak akan pernah menemukan haqiqat. Begitu juga orang yang beribadah, beramal untuk mendapatkan haqiqat, tidak akan bisa menemukan haqiqat.

Kenapa?

Bagaimana mungkin dia akan sampai kepada maqam haqiqat, sementara dalam syariat saja dia lelai/salah. Dia tidak paham bahwa haqiqat dan makrifat itu bukan Allah. Ibadahnya bukan karena Allah, melainkan karena haqiqat atau makrifat. Jauh dari maqam ikhlas apalagi ihsan.

Ini seumpama ada pengetahuan “barang siapa sholat ini itu dengan ikhlas maka dia akan tuhan beri ini itu”. Lalu kemudian dia sholat supaya mendapatkan ini itu, mungkin tidak dia mendapatkan nya? Sementara syarat untuk mendapatkan nya dia abaikan.

Orang yang mendapatkan/terbukanya pintu haqiqat adalah mereka yang menuntut ilmu (menuntut syariat) dan mengamalkan ilmu (berthoriqat) karena Allah. Bukan mereka yang menuntut ilmu atau mengamalkan ilmu agar mendapatkan maqam haqiqat. Pahamilah “Bertaqwalah kepada Allah nicaya Allah akan mengajar kamu.” (Al Baqarah: 282) dengan benar, insya Allah anda akan paham kedudukan haqiqat.

Ahli Makrifat Adalah Orang Yang Mengumpulkan Syariat, Thoriqat, dan Haqiqat.

Mereka yang mengumpulkan ketiga unsur di atas yang dimaksud dengan ahli makrifat/ma’rifah. Lalu kira-kira apa definisi yang pas untuk mendefinisikan makrifat menurut kalian? Kalau saya pribadi kesulitan menemukan definisi yang cocok untuk kata ini.

Makfirat itu hal, keadaan, atau kondisi seseorang hamba yang tuhan berikan kepada nya.

Terakhir kita umpamakan gula yang rasanya manis. Kita mengetahui bahwa gula rasanya manis, bukan berarti kita merasakan akan haqiqat sesungguhnya rasa manis. Untuk bisa merasakan rasa manis kita harus memakan makanan yang terasa manis seperti gula tadi. Barulah setelah kita memakan nya kita akan mengetahui haqiqat manis itu seperti apa?. Nah kondisi atau keadaan mereka yang telah mampu merasakan rasanya manis itulah perumpamaan makrifat.

Sepandai apapun orang yang pandai menulis dan berbicara tentang haqiqat manis, dia tidak akan mampu membuat mereka yang membaca atau mendengarkan bisa merasakan manis itu sendiri. Kecuali orang yang mendengarkan tersebut telah memakan makanan yang rasanya manis. Begitu juga mereka yang sudah merasakan, atau terbuka pintu haqiqat. Dia hanya bisa menjelaskan ala kadarnya dan membimbing muridnya untuk bisa merasakan yang namanya makrifat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *