3 Masalah Sederhana Puasa Ramadhan Namun Banyak Diabaikan

Untuk menjadi muslim atau muslimah sejati dan sesungguhnya, menunduk-kan hawa nafsu adalah keniscayaan dan keharusan.

Puasa Ramadhan adalah satu dari 5 rukun Islam yang harus dilakukan oleh seorang muslim. Setelah syahadatain, sholat, maka puasa menempati pusisi yang ketiga sebelum zakat. Tentu ada banyak rahasia yang terkandung dalam sebuah puasa, yang mana harus kita perhatikan dengan seksama.

1.Esensi dari puasa.
2.Pelaksanaan puasa.
3.Dan tujuan dari puasa itu sendiri.

Ketiganya harus kita pahami terlebih dahulu. Tanpa memahami kesemua itu, maka akan sulit kita mengamalkan puasa hingga mendapatkan sesuatu yang diharapkan. Apa saja penjelasan ketiga hal ini menurut saya? Berikut ulasan nya.

Esensi Dari Puasa.

Sekarang kita bicara tentang esensi dari puasa terlebih dahulu. Karena puasa adalah bagian rukun Islam maka ada baiknya kita pahami antara hubungan rukun dengan rukun lainnya, ini agar kita mudah memahami makna puasa.

Dalam rukun Islam yang pertama seorang muslim diwajibkan mengucapkan dua kalimat penyaksian akan ketuhanan Allah SWT, dan kenabian Nabi Muhammad SAW. Ini bukan hanya soal pengucapan namun jauh lebih besar dari kalimat penyaksian, namun penyerahan diri akan tunduknya diri kita secara sepenuhnya akan kehendak tuhan rabbul ‘alamin, dan taat akan semua risalah nubuwat kenabian yang menjadi syariat dan aturan hidup kita.

Dalam bahasa sederhana nya kita telah menjadi seorang muslim yang berketuhan kepada Allah SWT dan tunduk kepada aturan syariat yang disampaikan oleh utusan nya yakni Nabi Muhammad SAW.

Bukti tunduknya kita kepada tuhan dan bukti kita menjalankan semua aturan nya adalah dengan mengerjakan semua perintahnya dan menjauhi semua larangan nya. Dan itu tergambar jelas dalam rukun yang ke 2 yakni sholat.

Sholat adalah perintah tuhan yang disampaikan secara langsung melalui isra’ dan mi’raj nya Nabi Muhammad SAW. Tata caranya pun jelas, kapan dilaksanakan nya dan bagaimana pelaksanaan nya sebagaimana yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW, dan dijelaskan oleh para ulama.

Untuk mendekatkan diri kita kepada tuhan ada banyak cara, bisa dengan sedekah, baca Alqur’an, zdikir, dll. Namun sholat itu punya aturan tersendiri, kapan waktunya, bagaimana caranya sehingga sholat bukan hanya jalan mendekatkan diri kita kepada tuhan, namun sebuah gambaran tentang keta’atan kita kepada perintah tuhan dan tunduknya kita kepada syariat yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW.

Bahkan dalam sholat ada hikmah khusus yang melekat kepadanya, yakni mencegah dari fakhsya dan munkar. Dengan sholat harusnya seseorang jauh dari dosa dan perbuatan keji, bahkan sebenarnya bagi mereka yang benar dalam sholat nampak baginya mana yang salah dan mana yang benar dalam kehidupan nya. Dengan begitu seorang muslim akan bisa menjalankan perintah tuhan nya dan menjauhi larangan nya.

Namun sayangnya kita bukan malaikat yang setelah diciptakan dan diperintahkan mengerjakan sesuatu maka akan langsung mengerjakan nya. Malaikat diciptakan tanpa hawa nafsu, sementara kita manusia bahkan yang sudah jelas bagi kita kesalahan nya jauh darinya justru berusaha mengerjakan nya karena durungan nafsu yang memang sipat asalnya memerintah kepada kejahatan kecuali nafsu yang telah tenang dengan hidayah tuhan nya.

Random Post
1 of 5

Disinilah esensi puasa sebenarnya, sebuah jalan untuk menunduk-kan hawa nafsu bejat kita, agar dia tenang dalam mengerjakan perintah tuhan dan menjauhi larangan nya. Tanpa ketenangan tersebut sulit bagi kita untuk bertaqwa kepada Allah SWT. Bahkan larangan yang jelas-jelas nampak bagi kita, dan jauh dari kita malah kita cari karena durungan hawa nafsu tersebut.

Saat kita memetakan esensi ini dalam jiwa sanubari kita, berpuasa dalam rangka menunduk-kan hawa nafsu dijalan tuhan. Maka tidak ada langkah kecuali melaksanakan nya sesuai tata cara dan aturan mainnya. Bukan hanya soal sah atau batalnya, namun benar atau tidak puasa kita.

Untuk menjadi muslim atau muslimah sejati dan sesungguhnya, menunduk-kan hawa nafsu adalah keniscayaan dan keharusan. Tanpa itu mustahil kita menjadi muslim yang sejati, bagaimana kita bisa tunduk kepada tuhan rabbul ‘alamin jika kita pun tunduk dengan hawa nafsu. Jangan-jangan sedekah kita karena nafsu ingin dipuji, dll.

Pelaksanaan Ibadah Puasa.

Sekali lagi ini bukan tentang sah atau tidak, namun lebih kepada benar atau salah. Benarkah orang yang puasa, namun mulutnya ember suka menggibah, mencaci orang lain, dll. Benarkah sudah puasa orang yang dalam kepalanya pikiran-pikiran kotor tentang lawan jenisnya.

Jika masih ada ketundukan kita terhadap kehendak nafsu yang mengarah kepada larangan tuhan, maka itu artinya kita gagal menjalankan puasa kita, walaupun dari segi hukum fiqih puasa kita sudah sah. Kita harus mengarahkan nafsu kita kepada yang tuhan ridhoi, bukan sebaliknya. Itulah pelaksanaan puasa yang benar.

Tujuan Dari Puasa.

Tujuan dari puasa adalah menghilangkan rasa keakuan, dan menimbulkan rasa kehambaan dimana kita hanya tunduk kepada tuhan kita dan kepada syariat yang dibawakan oleh Nabi Muhammad SAW. Sehingga penyaksian kita bahwa “Tidak ada tuhan yang disembah selain Allah” adalah kesaksian yang benar, sesuai dengan realita yang ada.

Dalam 12 bulan ditiap tahunnya kita diajarkan dan mengajarkan kepada nafsu kita akan makna kehambaan. Tentu saja itu akan sangat berpengaruh besar dalam kehidupan kita pada tahun tersebut. Harusnya begitu?.

Jika pun tidak! Mungkin ada yang salah dalam puasa kita. Mungkin ada beberapa adab-adab puasa yang kita lewatkan. Mungkin dalam puasa kita, kita masih menjadi budak dari kehendak diri kita sendiri atau nafsu kita sendiri. Kegagalan dalam puasa itulah yang menjadi penyebab kita sulitnya menggapai derajat taqwa, bagaimana kita bisa tunduk kepada tuhan dan rasulnya jika ketundukan tersebut masih dalam belenggu ketundukan kepada hawa nafsu kita.

Buah dari ibadah puasa bisa dirasakan oleh kita, dan bisa dirasakan oleh orang lain. Taqwa akan membawa kepada kemashalatan diri kita dan kemashalatan orang lain. Karena itulah hakikat sebuah syariat agama diturunkan. Dalam zakat tuhan ingin menggambarkan bagaimana seseorang muslim yang bertaqwa itu. Dia bukan hanya manfaat untuk dirinya saja, namun juga kepada orang lain.

Dan buah taqwa tidak akan didapatkan oleh peribadi yang nafsu syahwatnya masih menjadi raja dalam dirinya. Nafsu yang selalu memerintah kepada kejahatan itu harus menjadi qalbun salim atau hati yang damai/selamat hingga berjumpa kepada ilahi sebagaimana tuhan gambarkan dalam panggilan tuhan ibadah haji.

Yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah irji’ii ilaa Rabbiki raadhiyatan mardhiyyah Fadkhulii ii ‘ibaadii wadkhulii jannatii

“Hai jiwa yang tenang Kembalilah kamu kepada Tuhanmu dengan hati puas lagi diridhai
Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu Maka masuklah ke dalam surga-Ku.”(al fajr :27-30)

Leave A Reply

Your email address will not be published.